Wednesday, 15 October 2014

KITA "KISAH NYATA": ANNE FRANK, DIARI KORBAN HOLOKAUS

October 14, 2014 by Tia Esha Nombiga

Selamat pagi blogger (anw gue menulis cerita ini di pagi hari)! Semoga hari kalian selalu menyenangkan yaa :)

Dikarenakan akhir-akhir ini gue lagi tertarik sama seorang gadis remaja yang mencurahkan isi hatinya selama dia hidup dalam sebuah buku diary yang dia beri nama “Kitty” dan itu yang membuat dia terkenal sampai saat ini. HEHEHE jadi inget Hello Kitty di sinetron (read: sebutan perebut suami orang) tapi ini sama sekali gak ada hubungannya dengan Hello Kitty yang menurut gue itu sangat absurd dan lebay. Memang buku diarynya terkenal setelah dia wafat tapi berkat buku diarynya lah yang membantu sejarahwan mengungkap detil demi detil kekejian Adolf Hitler dalam menyingkirkan kaum yang dianggap sampah yaitu kaum Yahudi yang kita sebut dengan peristiwa Holocaust.

Anne Frank (1929 - 1945)
Kalian yang suka sejarah pasti tau cerita demi cerita dibalik Perang Dunia II yang berlangsung pada tahun 1939 – 1945, dimana pada perang tersebut, Jerman yang telah mengalami kekalahan pada Perang Dunia I melakukan invasi besar-besaran untuk melawan sekutu yang pada akhirnyalah membuat Jerman menyerah pada tahun 1945. Sebelumnya gue ceritakan sedikit mengenai Adolf Hitler karena beliau memiliki hubungan yang erat dengan gadis remaja tersebut. Adolf Hitler adalah mulanya seorang seniman (pelukis) yang berasal dari Austria yang pada akhirnya memutuskan  untuk membanting stir memasuki dunia militer dan politik karena sesuatu hal. Kehidupan beliau mulai memburuk setelah ditinggal oleh kedua orang tuanya sehingga membuat beliau menjadi tunawisma. Saat itulah beliau melihat bahwa dunia itu tidak adil dan merupakan awal mengapa beliau sangat membenci kaum Yahudi karena pada saat itu kaum Yahudi sedang dalam masa kejayaannya, dimana kaum Yahudi hidup dengan sejahtera dan berlimpah harta. Kemudian beliau bergabung dengan militer dan politik Jerman yang membuat beliau menjadi orang yang paling berpengaruh di Jerman pada saat itu. Beliau sempat menjabat menjadi Fuehrer dan Kanselir Jerman serta bergabung dengan sebuah partai yang sering kita kenal dengan Partai NAZI yang menggunakan lambang Swastika. NAZI adalah sejarah kelam bagi masyarakat Jerman, jadi buat agan dan sist yang lagi berkunjung ke Jerman, jangan sekali-kali agan dan sist menyebut-nyebut kata NAZI, bisa dikeroyok satu negara HEHEHE Ini Serius!!!

Oke kita kembali ke gadis remaja itu yaa... Dia bernama Annelies Marie Frank atau yang biasa dikenal Anne Frank, adalah seorang anak perempuan keturunan Yahudi dari pasangan Otto Frank dan Edith Frank Hollander lahir di Frankfurt am Main, Jerman pada tanggal 12 Juni 1929 dan wafat pada tanggal 15 Maret 1945 di sebuah Kamp Konsentrasi Bergen-Belsen yang dibangun oleh Adolf Hitler di Lower Saxony, Jerman selama kekuasaannya untuk menyingkirkan kaum yang dianggap sampah tersebut. Anne Frank wafat karena penyakit tifus yang menggerogoti tubuhnya (gak kebayang gimana tersiksanya dia, lagi sakit tifus tapi dibiarkan begitu aja di sebuah bangunan yang berisi orang-orang sekarat yang pastinya sangat kotor dan tidak sehat) :(

Anne Frank ini bisa dibilang hidup dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan di Amsterdam yang memproduksi selai bernama Dutch Opekta Company sebagai direktur. Anne Frank memiliki seorang kakak perempuan yang bernama Margot Frank yang terpaut 3 tahun lebih tua. Kehidupan masa kecil Anne dan Margot awalnya baik-baik saja sampai pada akhirnya Jerman membuat peraturan khusus untuk kaum Yahudi, dimana kaum Yahudi diberi lencana berbentuk bintang berwarna kuning yang menandakan bahwa pemakai lencana tersebut adalah seorang Yahudi. Kaum Yahudi pada saat itu tidak diperbolehkan pergi ke bioskop dan tempat hiburan, memakai kendaraan pribadi ataupun umum, menggunakan jalan raya, dan tidak diperbolehkan berkeliaran dari pukul 8 malam sampai 6 pagi. Kondisi tersebut yang membuat Anne Frank pindah dari sekolah biasa ke sekolah khusus kaum Yahudi. Saat itulah merupakan saat yang paling menyedihkan yang dialami oleh Anne Frank karena ia harus berpisah dengan teman-temannya dan berpindah tempat tinggal ke negeri Belanda karena keluarganya termasuk ke dalam daftar incaran Tentara NAZI untuk dimusnahkan. Keluarga Frank berharap Belanda akan melindungi mereka namun akhirnya Jerman mulai menduduki Belanda yang membuat Belanda menyerah. Masa remaja Anne Frank yang seharusnya diisi dengan bermain-main bersama teman sebayanya harus diisi dengan ketakutan, kecemasan serta kewaspadaan yang selalu menghantui dia. Karena pemerintah NAZI mulai menggembor-gemborkan bahwa mereka akan memusnahkan kaum Yahudi, Otto Frank mulai membuat rencana untuk melarikan keluarganya. Namun semua rencananya berubah ketika Margot Frank mendapat Surat Panggilan Kamp Konsentrasi dan Sel Tahanan pada tanggal 8 Juli 1942. Otto Frank dan teman bisnisnya yang bernama Hermann van Pels membuat rencana, sementara Anne dan lainnya berkemas. Pada tanggal 9 Juli 1942, Keluarga Frank meninggalkan apartemennya yang mewah untuk bersembunyi dengan meninggalkan kesan berantakan bahwa mereka pergi secara tiba-tiba ke Swiss. Karena kaum Yahudi tidak diperbolehkan menggunakan jasa angkutan, maka mereka berjalan kaki beberapa kilometer dengan menggunakan beberapa lapis baju supaya mereka tidak terkesan sedang bepergian jauh (mereka tidak membawa koper, hanya beberapa tas kecil). Akhirnya Keluarga Frank bersama Keluarga van Pels dan Fritz Pfeffer (seorang dokter gigi) yang juga merupakan teman Otto Frank keturunan Yahudi bersembunyi selama 2 tahun terhitung dari tahun 1942 – 1944 di loteng kantor milik Otto Frank yang dikenal dengan sebutan Secret Annex atau Achterhuis (dalam Bahasa Belanda ‘achter’ artinya belakang dan ‘huis’ artinya rumah) yang terletak di Jalan Prinsengracht 263, Amsterdam, Belanda yang sekarang dijadikan museum terkenal di Belanda bernama “House of Anne Frank” (someday gue bakal mengunjungi museum ini Amin). Di saat kemelut itulah, Anne Frank mulai menulis sebuah catatan di buku diary yang awalnya merupakan buku untuk tanda tangan yang diberikan oleh ayahnya saat dia berulang tahun pada tanggal 20 Juni 1942. Dia lebih menyukai mencurahkan isi hatinya ke dalam buku diary daripada bercerita kepada orang lain karena ia merasa akan dicemooh jika bercerita dengan orang lain. Maka kitty lah satu-satunya teman dia yang setia pada saat itu.

Secret Annex dari Luar (Loteng Kantor Otto Frank Lantai 3)
Secret Annex dari Dalam
Daftar kedelapan orang yang bersembunyi di Secret Annex:
Dari kiri atas pertama ke kanan searah jarum jam: Anne Frank, Otto Frank, Edith Frank, Margot Frank, Fritz Pfeffer, Peter van Pels, Auguste van Pels, dan Hermann van Pels
Selama 2 tahun itu, Anne Frank hidup di sebuah tempat kecil bersama ketujuh orang lainnya tanpa udara bebas. Pintu masuk gudang dengan Secret Annex ditutup dengan lemari untuk menyamarkannya. Bahkan pada jam kantor, mereka tidak diperbolehkan ribut atau sekedar membuang air kecil karena suara kucuran air akan terdengar sampai ke bawah. Bahkan mereka hanya mengonsumsi selada dan buncis beberapa hari serta memakai baju yang telah usang. Namun Anne, Margot, dan Peter van Pels tetap mendapatkan pelajaran dari buku-buku yang disuplai oleh Tuan Kliemann dan Tuan Kugler. Selama masa persembunyiannya, Anne Frank menghabiskan hidupnya dengan menulis cerita di buku diarynya sedangkan kakaknya yang bernama Margot belajar Bahasa Latin dengan memanggil seorang guru. Selama persembunyiannya tersebut, Keluarga Otto Frank dibantu oleh keempat rekan bisnisnya sebagai jembatan antara dunia luar dengan tempat persembunyiannya seperti memberi kabar dan menyuplai makanan.

Daftar orang yang menolong Keluarga Frank dan van Pels:

Jan Gies, Suami Miep Gies












Miep Gies, yang menemukan Diary Anne
Jo Kleimann, Akuntan Opekta dan Pentacon













Victor Kluger, Karyawan Opekta
Bep Voskuijl, Sektretaris Otto, Teman Anne











Selama 2 tahun bersembunyi, banyak cerita yang mereka dapat seperti pertengkaran Anne Frank dengan Fritz Pfeffer yang dianggapnya mengganggu karena harus berbagi kamar dengannya, hubungan yang tidak harmonis antara kedua orang tuanya yang membuat Anne Frank jauh dengan kakak dan ibunya (hanya ayahnya lah yang memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengannya), ataupun kisah asmara Anne Frank dengan Peter van Pels yang semula canggung menjadi saling mencintai karena seringnya bertemu selama 2 tahun yang menumbuhkan benih cinta diantara keduanya. Ia juga menulis tentang keadaan di sekitar tempat persembunyiannya dimana ia sering mendengar suara sirine yang menandakan pesawat lawan sedang melintas ataupun suara tembakan pada malam hari. Bahkan mereka harus menahan napas di saat terjadi perampokan di kantor milik Otto Frank karena khawatir tempat persembunyiannya akan terungkap. Anne Frank yang berusia 13 tahun pada saat itu selalu dianggap lancang, kekanak-kanakkan, dan masih terlalu kecil untuk berpendapat merasa kesal dengan kelima orang dewasa yang tinggal bersamanya, termasuk kepada Ibunya dan Nyonya van Pels. Di saat itulah Anne Frank mulai membentuk karakternya menjadi seorang remaja yang menuju kepada sikap yang lebih dewasa yang pastinya ia curahkan ke dalam buku diarynya. Anne Frank yang masih berumur 13 tahun memiliki cara pandang yang mengagumkan tentang kekejaman dan ketidakadilan dimana ia masih bersyukur atas hidupnya walaupun ia hidup di dalam tempat persembunyian yang kecil dan bau, seperti yang ia ungkapkan di dalam buku diary “Aku merasa sangat jahat dimana aku bisa tidur dengan hangat di saat sahabat karibku sedang berjuang melawan orang-orang jahat tersebut, dipukuli dan disiksa, ini hanya semata-semata karena kami adalah seorang Yahudi. Siang dan malam, orang-orang miskin diseret. Anak-anak yang baru pulang sekolah mendapati keluarganya telah menghilang serta rumah mereka disita”

Frank Family, 1941
Namun dibalik ketakutan dan ketidakpastiannya, Anne Frank memiliki keoptimisan yang sangat tinggi bahwa perang ini akan segera berakhir dan ia akan segera menghirup udara bebas untuk melanjutkan hidupnya. Hidup bersama kelima orang dewasa yang selalu mencemoohnya membuat Anne Frank bersahabat dan menjalin hubungan yang kuat dengan Peter van Pels yang berumur 16 tahun (terpaut 3 tahun lebih tua dari Anne Frank). Setiap malam dan pagi di saat jendela loteng diperbolehkan untuk dibuka, Anne dan Peter sering bersua bersama sambil memandang langit, dimana di dalam diarynya, Anne bercerita bahwa betapa indahnya ciptaan Tuhan berupa alam yang luas ini dimana kamu akan menemukan kebahagiaan ketika memandangnya, alam yang luas dan bebas. Selama kamu masih bisa menatapnya pada malam hari, kamu akan tahu bahwa kamu suci di dalamnya dan akan menemukan kebahagiaan sekali lagi. Itulah yang memberikan secercah harapan bagi Anne Frank selama melewati masa-masa sulit di Secret Annex. Ada sebuah petikan catatan yang paling mengilhami banyak orang ketika membacanya yaitu mengenai cinta, kebebasan, dan harapan “Sulit hidup pada masa ini dimana idealisme, mimpi, dan harapan yang seharusnya dapat tumbuh seketika hancur oleh realitas yang suram. Bagaimanapun keadaanya, aku tidak akan meninggalkan idealismeku disaat orang-orang mulai meninggalkannya. Pada dasarnya setiap manusia itu baik. Sangat tidak mungkin bagiku menjalani hidup ditengah kekacauan, merasakan penderitaan yang dialami oleh berjuta umat di dunia, namun semua rasa kegundahan itu hilang ketika aku mulai menatap langit, dimana aku dapat melihat ada harapan walaupun hanya sedikit bahwa dunia ini akan kembali damai seperti sediakala. Pada suatu saat aku harus tetap memegang idealismeku sampai waktunya tiba dimana aku dapat mewujudkannya”. Catatan tersebut ditulis 3 hari sebelum akhirnya tempat persembunyian Secret Annex terbongkar oleh Tentara NAZ (sumpah ini paling menyedihkan karena kabarnya Keluarga Frank dikhianati walaupun sampai sekarang belum diketahui siapa pengkhianat itu, yang pasti hanya ada 4 orang yang mengetahui tempat persembunyian mereka). Kedelapan penghuni Secret Annex ditangkap dan dibawa menuju kamp konsentrasi. Margot Frank dan Anne Frank dibawa ke Kamp Konsentrasi Bergen-Belsen sedangkan ibu dan ayahnya dibawa ke Kamp Konsentrasi Auschwitz-Birkenau di Polandia. Margot Frank wafat karena penyakit tifus yang dideritanya akibat gizi buruk dan sanitasi yang kurang memadai selama tinggal di kamp konsentrasi, disusul oleh Anne Frank yang wafat tiga hari kemudian dengan penyakit yang sama pada sekitar bulan Februari – Maret 1945.

Daftar riwayat hidup kedelapan orang yang bersembunyi di dalam Secret Annex:
1. Anne Frank: wafat di Kamp Konsentrasi Bergen-Belsen akibat tifus pada        
    Maret 1945
2. Margot Frank: wafat di Kamp Konsentrasi Bergen-Belsen akibat tifus pada 
    Maret 1945
3. Otto Frank: selamat dari Kamp Konsentrasi Auschwitz dan wafat pada 
    Agustus 1980
4. Edith Frank: wafat di Kamp Konsentrasi Auschwitz akibat kelaparan pada 
    Januari 1945
5. Peter van Pels: selamat dari Kamp Konsentrasi Auschwitz namun wafat di 
    Kamp Konsentrasi Mauthaussen pada Mei 1945
6. Auguste van Pels: ditempatkan di Kamp Kosentrasi Bergen-Belsen lalu 
    Buchenwald dan wafat saat transit di Kamp Konsentrasi Theresienstadt pada 
    April 1945
7. Hermann van Pels: wafat di Kamp Konsentrasi Auschwitz akibat menghirup 
    gas beracun di dalam Gas Chamber pada November 1944
8. Fritz Pfeffer: ditempatkan di Kamp Konsentrasi Auschwitz lalu dipindahkan 
    dan wafat di Kamp Konsentrasi Neuengamme pada Desember 1944
Anne Frank Memorial of Bergen-Belsen
Dari kedelapan orang yang ditangkap tersebut, hanya Otto Frank lah yang selamat dari peristiwa Holocaust tersebut karena Jerman keburu kalah oleh sekutu pada tahun 1945 dan membuat Adolf Hitler bunuh diri (kabar ini masih menjadi kontroversi bahwa Adolf Hitler bunuh diri atau melarikan diri karena telah ditemukan kapal selam milik NAZI yang karam di sekitar Laut Jawa yang diduga milik Adolf Hitler). Buku diary milik Anne Frank yang selama ini belum pernah dibaca oleh siapapun ditemukan oleh Miep Gies yang sempat mengunjungi Secret Annex setelah Jerman mengalami kekalahan dan berniat menyimpannya untuk mengembalikannya kepada Anne Frank. Tetapi Miep akhirnya mengetahui bahwa Anne Frank telah wafat setelah bertemu dengan Otto Frank dan akhirnya Miep mengembalikkan buku diary itu kepada Otto Frank. Otto Frank yang telah membaca isi curahan hati puterinya merasa bangga bahwa puteri yang selama ini dianggap masih memiliki sikap kekanak-kanakan pada umumnya ternyata memiliki pandangan yang luar biasa tentang cinta, harapan, kebebasan, dan optimisme yang jarang sekali dikemukakan oleh anak remaja pada umumnya (apalagi anak remaja sekarang yang hobinya hedon sana hedon sini). Atas permintaan anaknya yang ingin menjadi seorang penulis, Otto Frank menerbitkan curahan hati puterinya tersebut menjadi sebuah buku dengan sedikit editan tanpa mengubah cerita utama Anne Frank yang berjudul “The Diary of a Young Girl” yang telah diterjemahkan dalam banyak bahasa pada tahun 1947. The Diary of Young Girl dijual lebih dari 30 juta copy dan diterjemahkan ke dalam 60 bahasa. Sambutan terhadap terbitnya buku tersebut sangat luar biasa mengenai kemanusiaan dan kebencian terhadap suatu kaum, bahkan beberapa Rumah Produksi telah mengangkat ceritanya ke dalam sebuah layar lebar pada tahun 1954, 2001, dan yang terbaru pada tahun 2009 berjudul The Diary of Anne Frank.
Buku Diary Anne Frank (Asli)
House of Anne Frank Museum, Amsterdam, Belanda (phot by Google)
Ada beberapa petikan yang bisa diambil hikmahnya mengenai banyak hal:
1.  Di saat anak-anak remaja seusianya sedang mereguk kenikmatan indahnya dunia, dia terkurung dalam kepengapan selama 2 tahun dan hanya buku yang menjadi temannya. Anak normal saat ini yang hidupnya selalu menghambur-hamburkan uang milik orang tua tidak akan mengerti pentingnya buku bagi orang seperti dia yang tidak pernah merasakan hiburan seperti TV, radio, dan Smartphone.
2. Berbicara mengenai kisah Anne Frank, tak luput dari sorotan mengenai perbedaan etnis/agama/ras yang menurut gue saat ini masih menjadi momok yang banyak diperbincangkan di dunia. Setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing, bukan berarti perbedaan etnis/agama/ras menyebabkan manusia saling membenci. Tapi bagaimana mereka bisa menciptakan kebahagiaan mereka sendiri secara personal. “This is not about Religion, but this is about Humanism”. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, PBB mulai dibentuk untuk menciptakan perdamaian yang menurut gue cuma berisi orang-orang yang mencari keuntungan semata. Toh PBB seakan-akan tutup mata dan tidak mampu meredam kemelut peperangan yang mengatasnamakan agama seperti yang terjadi antara Palestina dan Israel yang masih bergejolak hingga saat ini, walaupun sebagian orang mengatakan bahwa perang ini terjadi antara Zionis dan Hammas tapi bukankah sebagian besar korban berasal dari warga sipil??? Baik dari Palestina itu sendiri maupun dari Israel yang menurut gue, mereka gak tau apa-apa.

Semoga cerita ini bisa mengilhami kita semua bahwa dibalik kesengsaraan pasti ada secercah harapan, dimana suatu saat harapan tersebut akan terwujud. Memang benar Anne Frank tidak akan lagi bisa mewujudkan cita-citanya selama ini, tapi Anne Frank berhasil membuat orang lain yang mungkin tidak memiliki semangat hidup menjadi orang yang paling optimis di dunia.

Baca juga Sophie Scholl, Mahasiswi Jerman Anti NAZI

Sophie Scholl, Die Letzten Tage Movie

Saturday, 11 October 2014

PENGALAMAN PERTAMA MENCARI PEKERJAAN

October 10, 2014 by Tia Esha Nombiga


Pada tanggal 23 Juli 2014, saya ditetapkan lulus oleh pihak kampus dengan gelar Ahli Madya untuk jurusan Supervisor Jaminan Mutu Pangan, Diploma IPB. Namun karena jurusan saya telat dalam melaksanakan Ujian Tugas Akhir, akhirnya seluruh mahasiswa jurusan saya dijadwalkan mengikuti Wisuda Tahap II yang dilaksanakan tanggal 12 November 2014.

Setelah saya dan teman-teman memperoleh Surat Keterangan Lulus dan Transkrip IPK, kami berbondong-bondong mencari pekerjaan untuk kehidupan kami yang lebih baik ke depannya sesuai dengan minat kami. Karena merasa anaknya sudah memenuhi amanatnya, mama memberikanku hadiah seekor kucing Persia berumur 3 bulan dan liburan ke Jawa Timur dan Jogjakarta. Maklum, selama dapet nilai bagus gak pernah dikasih hadiah, apalagi dapet nilai jelek, dipelototin 3 hari 7 malem kali HAHA gak deng bercanda. Oleh karena itu mama tidak memperbolehkan saya melamar pekerjaan terlebih dahulu sebelum liburan itu berakhir.

Hari ini tanggal 18 September 2014, liburan saya berakhir. Akhirnya saya mulai mencari lowongan pekerjaan melalui internet. Saya mencoba mencari perusahaan pangan yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan kediaman saya sehingga sampailah saya pada tiga alternatif perusahaan, yaitu PT Nutrifood Indonesia, PT San Miguel Pure Foods Indonesia, dan PT Indolakto-Indofood (CBP), namun dari ketiga alternatif tersebut, saya hanya mengirim sebanyak dua lamaran kepada San Miguel dan Nutrifood. Padahal San Miguel hanya membuka lowongan untuk lulusan S1 sedangkan saya hanya lulusan Diploma (maklum keisengan saya sedang kumat karena saya yakin yang namanya rejeki selalu ada bagi orang yang berusaha). Dan tak dinyana tak disangka, seminggu kemudian saya memperoleh telepon dari nomor yang tak dikenal, tanpa pikir panjang saya langsung mengangkat telepon tersebut dan ternyata telepon tersebut dari HRD pusat PT Nutrifood Indonesia yang bermarkas di Pulo Gadung. Padahal saya baru memperoleh e-mail dari Nutrifood atas jawaban CV Online bahwa saya tidak lolos. Mbak HRD tersebut menanyakan apakah saya ingin mengikuti psikotes atau tidak di Pulo Gadung esok hari pukul 07.30, lalu saya malah membalas seperti ini

“Saya kan ngirim lamarannya ke Bogor mbak?”
“Iya tapi tesnya di Pulo Gadung”
“Ooohh gitu ya mbak, sebentar deh saya pikirin lagi”
“Yaudah nanti keputusannya kamu hubungi saya kembali ke nomor ini ya 0214xxxxxx
“Iya mbak nanti saya hubungi”

Saya bingung, apakah saya ambil atau tidak karena psikotes diadakan di Jakarta. Lalu saya meminta pendapat Ayah dan Ibu saya pada saat itu, Ayah saya menyuruh untuk mengambil kesempatan itu karena beliau akan menjelaskan rute menuju lokasinya nanti. Akhirnya saya menghubungi Mbak HRDnya kembali dan mengiyakan kesempatan itu.

Hari Selasa tanggal 30 September 2014 atau keesokkan harinya, saya diantar oleh Ibu saya menuju lokasi dengan menggunakan bus Kowanbisata dari Cibinong sekitar pukul 6 pagi (sumpah ternyata ini salah perhitungan). Karena di dalam bus sesak penuh penumpang kantoran dan terlebih saya belum sarapan, penyakit maag saya kumat. Akhirnya setelah tiba di Terminal Pulo Gadung, saya sarapan dan minum teh hangat sejenak di sebuah kedai kecil padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 lebih (daripada pingsan di tempat, mending makan dulu). Setelah itu kami melanjutkkan perjalanan menggunakan jasa ojeg dari Terminal Pulo Gadung menuju Kawasan Industri Pulo Gadung. 
Head Office PT Nutrifood Indonesia Pulo Gadung (photo by @nutrifood)
Setibanya di PT Nutrifood Indonesia yang terletak di Kawasan Industri Pulo Gadung, saya langsung menuju pos satpam untuk meminta kartu identitas dan mengisi daftar hadir (saya mengisi pukul 08.10 HAHA emang bener-bener, di saat yang lainnya mengisi pukul 06.30), lalu ibu saya menunggu di ruangan sebelah pos satpam, ternyata di sana juga ada seorang Ibu yang mengantar anaknya mengikuti psikotes pada hari itu (yaa seenggaknya Ibu saya ada teman mengobrol). Lalu saya disuruh Pak Satpam masuk ke dalam Front Office dan saya langsung menghampiri Resepsionis untuk menanyakan soal psikotes. Mbak Resepsionisnya bilang “Kan janjiannya jam setengah delapan”, saya diam seribu bahasa aja daripada salah ngomong, lalu dia langsung menghubungi Mbak HRD di atas dan mempersilahkan saya menunggu.

Selang 15 menit, mbak HRD itupun tiba dan mempersilahkan saya untuk mengikuti dia. Rute untuk menuju ruangan psikotes lumayan berliku, dan terletak di lantai 2 atau 3 gitu, saya lupa. Sesampainya di ruang psikotes, saya cukup terkejut karena sudah banyak peserta lain yang datang dan sedang mendengarkan Mbak HRD lainnya presentasi mengenai Company Profile. Kalau tidak salah, nama mbak HRD yang sedang presentasi adalah Mbak Lidya dan Mbak Stefani. Untung saya tidak ditanya macem-macem karena datang telat. Saat itu jumlah peserta yang mengikuti psikotes sebanyak 23 orang dari berbagai Universitas seperti ITB, UGM, IPB, dll. Dan hanya saya dan teman saya yang kebetulan bertemu yang berasal dari Diploma, agak minder juga sih, tapi gapapalah, ngerasa keren aja bisa saingan sama anak lulusan Sarjana. Lalu tepat pukul 08.30, psikotes pun dimulai. Untuk psikotes seperti hitungan yang lumayan banyak dan semakin susah seiiring pergantian nomor hanya diberi waktu sekitar 12 menit, lalu dilanjut tes menyocokkan gambar yang bener-bener menguras otak (HAHA agak lebay sih) yang hanya diberi waktu singkat, lalu dilanjut tes gambar dengan pola lingkaran (saya hanya meneruskan saja), akhirnya dengan sekreatif mungkin, saya gabungkan beberapa lingkaran supaya menjadi satu gambar yang lagi-lagi hanya diberi waktu singkat sesingkat-singkatnya, setelah itu tes gambar yang berada di dalam kotak dimana di dalam kotak terdapat beberapa guratan yang harus saya teruskan sehingga menjadi sebuah gambar yang sempurna, dan yang terakhir tes menggambar manusia sempurna dan pohon dikotil berkambium (entah tujuannya apa disuruh gambar manusia dan pohon). Untuk mengisi tes essay seperti bagaimana kepribadian saya, apa minat saya, dan apa Tugas Akhir/Skripsi saya diberi waktu sampai saya bener-bener menyeselesaikan semua tanpa tersisa satu soal pun. Selama kurang lebih 3 jam psikotes itu berlangsung dan Mbak Lidya mengatakan kalau mereka tidak akan memeriksa semua jawaban pada saat itu sehingga dibagi menjadi dua kelompok, dimana kelompok 1 diperbolehkan pulang dan menunggu jawaban kurang lebih dua minggu dan kelompok 2 yang menunggu terlebih dahulu. Pada saat itu hanya 6 orang yang diperbolehkan pulang sedangkan saya menunggu terlebih dahulu di sebuah ruangan dengan kursi melingkar.
Kursi Melingkar, Tempat Saya Menunggu (photo by @nutrifood)

Dimana di depan kursi ini terdapat perpustakaan dan ruang meeting yang cozy abis. Ternyata di Nutrifood Pulo Gadung ini juga disediakan tempat fitness dan tempat santai untuk bermain PlayStation (aaahhh kesukaan saya banget) dan menonton DVD.

Perpustakaan PT Nutrifood Indonesia Pulo Gadung (photo by @nutrifood)
Ruang Meeting Lesehan PT Nutrifood Indonesia Pulo Gadung (photo by @nutrifood)


Fitness Place PT Nutrifood Indonesia Pulo Gadung (photo by @nutrifood)
Pokoknya Nutrifood ini sangat memanjakan karyawannya. Namanya juga perusahaan yang mengedepankan healthy, jadi perusahaan menginginkan karyawannya selalu sehat dan nyaman saat bekerja. Oke kita kembali ke "menunggu" tadi... ternyata setelah itu saya dipanggil untuk mengikuti interview oleh tiga orang HRD, dan salah satu dari mereka bertanya mengenai kegiatan saya di kampus, kegiatan saya di tempat magang, dan kegiatan saya selama jadi pemimpin, apakah saya memiliki teman yang bekerja di Nutrifood, lalu terakhir beliau bertanya apakah saya ingin ditempatkan di Cibitung dan Ciawi, saya menjawab “Kalau di Cibitung saya masih keberatan karena saya gak mau ngekos”, akhirnya beliau mengatakan “Yaudah cukup, nanti tunggu kabar dari kami sekitar dua minggu lagi ya”. Lalu kita bersalaman. Saya sih udah gak kepikiran akan diterima karena saya melakukan banyak kesalahan, yang pertama saya telat dan yang kedua saya gak mau ditempatin di Cibitung.

Selang seminggu kemudian yaitu tanggal 08 Oktober 2014, saya memperoleh telepon dari nomor yang tak dikenal kembali, rasa-rasanya saya familiar dengan nomor ini, lalu saya mengangkat telepon tersebut dan ternyata telepon tersebut berasal dari Mbak HRD Nutrifood. Beliau memberitahukan bahwa saya harus mengikuti interview keesokkan harinya di Nutrifood Ciawi pada pukul 9 pagi. Seperti biasa, saya diantar oleh Ibu saya ke lokasi (anak mami banget ya gue-_-). Perjalanan menuju Nutrifood Ciawi tidak sejauh perjalanan menuju Nutrifood Pulo Gadung (ya iyalah), hanya membutuhkan waktu 1,5 jam. Sesampainya di sana, saya menghampiri pos satpam untuk mengisi daftar hadir dan mengambil kartu identitas (akhirnya saya gak telat 1 jam). Ternyata ada sekitar 8 orang yang akan mengikuti interview pada hari itu. Selang setengah jam, kami digiring oleh Pak Satpam menuju sebuah ruangan untuk menunggu giliran interview. Agak ngaret sedikit sih, eh tapi gak sedikit, lumayan banyak, ngaret 2 jam-_-. Akhirnya saya dipanggil untuk mengikuti interview Manager HRD pada pukul 11 pagi oleh Ibu Lucia Paulina. Beliau melontarkan pertanyaan interview pada umumnya mengenai apa minat saya (saya memilih R&D, QC, dan mikrobiologi), apa alat laboratorium yang saya kuasai (sumpah di sini saya ngeblank karena lupa nama alatnya-_-), apa saya mau dishift (bodohnya saya bilang mau-_- tapi ternyata ini cuma pertanyaan jebakan) setelah itu beliau malah bertanya transportasi apa untuk menuju sini (pertanyaan lanjutan dari pertanyaan jebakan tadi), terus gue jawab naik transportasi umum dan saya gak berani naik motor, dan lagi-lagi ditanya apakah saya mau ditempatin di Cibitung (sekali lagi saya jawab “Saya keberatan kalau ditempatin di Cibitung), lalu pertanyaan terakhir, apa kelebihan dan kelemahan saya (bodohnya saya pake mikir lagi apa kelebihan dan kelemahan saya, maklum gugup). Setelah itu beliau menyuruh saya untuk menunggu di lobby untuk mengikuti interview User oleh Manager Laboratorium Mikrobiologi setelah makan siang. Karena itu Mbak Resepsionis menyuruh saya dan lainnya makan siang terlebih dahulu di kantin (menu presmanan gitu kayak saya kalau lagi kondangan). Kesan terakhir saya buat Ibu Lucia Paulina, sumpah dia baik banget, banyak senyum, gak merasa lagi ngerendahin kita waktu interview (sama baiknya kayak Mbak HRD di Pulo Gadung).

Setelah saya makan siang dan solat zuhur, saya dan lainnya kembali menunggu giliran untuk interview User. Saya menunggu giliran interview User yang tak kunjung datang cukup lama. Akhirnya setelah 2,5 jam berlalu, saya dipanggil oleh seorang wanita muda untuk memasuki sebuah ruangan. Nama wanita muda itu adalah mbak Rina dan ternyata beliau adalah Manager Lab, gak nyangka banget Manager Lab semuda itu, seumuran sama kakak saya mungkin, sekitar 26 tahun. Ternyata beliau lulusan ITP (Ilmu Teknologi Pangan) IPB, pantes ngerti banget soal jurusan saya. Pertama saya disuruh memperkenalkan siapa diri saya sampe nanya ke akar-akarnya, apa saja yang dipelajari selama magang, tema magang saya, seputar perusahaan tempat saya magang, saya memiliki teman di Nutrifood atau tidak, saya mengetahui info tentang Nutrifood darimana, saya ingin melanjutkan kuliah atau tidak, jenjang karir yang saya inginkan, beliau juga menanyakan hobi saya yang ternyata kebanyakan hobi saya melenceng dari dunia pangan yang membuat beliau sedikit bingung, kelebihan dan kelemahan saya, tipe orang yang suka bekerja seperti apa, tipe orang yang gampang berubah atau tidak. Dia cerita kalau dia megang beberapa bagian, termasuk di Cibitung (waahh hebat ya semuda itu), lalu dia cerita R&D itu ada 5 departemen, kalau dia berada di departemen RLS. Terakhir beliau ngomong gini “Saya ada posisi kosong sebagai analis kimia dan analis mikrobiologi tapi di Cibitung (saya melotot karena kaget) terus dia lanjut ngomong gini seperti menirukan pembicaraan dia sebelumnya dengan seorang Bapak, entah Bapak siapa, kayaknya sih bos beliau, “Ini udah gak mau ditempatin di Cibitung, apa perlu kita interview Pak?”. Agak jleb sih HAHA. Sebenernya beliau menawari saya posisi sebagai Regulator dan QA tapi saya tahan karena saya menginginkan posisi R&D (agak bodoh sih nolak tawaran itu-_-). Tapi gimana gitu kalo kerja tapi gak sesuai minat. Menurut bayangan saya, kerjaan Regulator dan QA itu selalu bikin dokumen dan pasti kerjanya selalu di depan komputer, karena mata saya cepat lelah dan berujung pening. Kalau R&D itu selalu buat project baru tiap bulannya, dan itu yang saya suka karena pekerjaannya tidak monoton walaupun beliau mengatakan kalau pekerjaan R&D itu tidak menentu. Lalu Mbak Rina mengatakan kepada saya kalau perusahaan akan mempertimbangkan kembali dan memperbolehkan saya pulang. Sedih sih sebenernya, kalo posisinya kosong kenapa gak dari dulu ditolak padahal saya udah bilang dari awal kalo saya gak mau ditempatin di Cibitung, sakitnya tuh di siniiiii (nunjuk dompet karena pasti banyak ngeluarin duit buat ngongkos dan pantat karena pasti capek banget nunggu perjalanan yang jauh). SEKIAN!!! Yaa semoga ada keajaiban, tiba-tiba ada posisi R&D yang kosong di Ciawi atau saya harus bilang "Bye Bye Gluck" buat Nutrifood.... Mungkin Nutrifood hanya ingin memberikan saya kesempatan agar tidak mengulangi kesalahan jika kemudian memperoleh panggilan kembali.

Friday, 10 October 2014

PERJALANANKU MENGELILINGI JAWA TIMUR

October 10, 2014 by Tia Esha Nombiga

DAY 1 (Rabu, 03 September 2014) : JAKARTA - JOGJAKARTA

Ini kisah perjalanan gue sewaktu touring mengelilingi Pulau Jawa dari ujung kulon ke ujung ngetan bersama nyokap gue. Katanya sih jalan-jalan ini sebagai hadiah gue yang baru lulus kuliah.

Perjalanan tersebut dimulai pada tanggal 03 September 2014 pkl 21.55 WIB dengan jadwal tour pertama yaitu menuju Jogjakarta yang diperkirakan tiba sekitar pkl 06.00, gue berangkat menaiki Kereta Api Ekonomi Bogowonto dari Stasiun Senen, HAHAHA selain supaya murah juga supaya terasa kalo lagi jalan-jalannya. Sebenernya ini pengalaman pertama kalinya gue naik kereta ekonomi malam. Awalnya sih gue seneng tapi lama-kelamaan kok rasanya leher pegel bgt karena gak bisa nyender, udah gitu pemandangannya gelap bgt, ditambah lampu gerbong gak dimatiin, makin gak bisa tidur dan ditambah ada mbak-mbak yang teleponan melulu sama pacarnya padahal jam sudah menunjukkan pkl 1 dinihari, bukannya envy ya cuma berisik aja sampe diSSSTTT-in sama ibu-ibu di belakang saking berisiknya karena ini mbak-mbak juga becanda sama temen-temennya yang duduk di belakang, kayaknya nih mbak-mbak sama temen-temennya mau backpacking ke Jogjakarta. Alhasil selama perjalanan gue cuma bisa tidur selama 2 jam. Selama di dalem kereta, gue ngeluh gak mau naik kereta lagi, terus nyokap nyeletuk “Kalau mau nyaman ya naik kereta eksekutif atau bisnis” “Iyaa sih beneeer”.

DAY 2 (Kamis, 04 September 2014) : JOGJAKARTA

Hari Kamis, tgl 04 September 2014, akhirnya gue sampai juga di Stasiun Tugu Jogjakarta. Niatnya sih langsung cari penginapan sekitar stasiun, tapi kok rasanya badan ini udah gak bisa diajak kompromi. Seperti biasa, kalo kecapean maag gue selalu kumat lagi sakitnya. Akhirnya kita duduk-duduk dulu di stasiun, terus gue berpikir mendingan kita langsung cuss ke rumah mbah di Madiun, udah gak ada niat lagi buat main-main ke Malioboro apalagi nyari penginapan karena yang ada di dalam pikiran gue tuh cuma MANDI MANDI MANDI KASUR KASUR KASUR… Yaudah akhirnya nyokap setuju dan kita langsung tanya ke bagian informasi mengenai jadwal Kereta Madiun Jaya, dan ternyata kereta menuju Madiun baru ada pkl 4 sore, ALAMAAAKKK nunggu lagi-__- mungkin karena muka kita kayak muka orang putus asa, tiba-tiba kita disamperin sama seorang bapak, bapak ini nanya kita mau kemana, akhirnya kita nanya kalo kereta ke Solo namanya apa, NAH kebetulan banget bapak ini juga mau ke Solo, akhirnya kita dianterin dan dikasih tau cara beli tiket ke Solo, nama keretanya Pramex, lama perjalanan dari Jogjakarta ke Solo sekitar 2 jam. Kita nunggu sekitar sejam sampe keretanya dateng. Selama nunggu itu, kita ngobrol-ngobrol sama bapak itu (entah nama bapak itu siapa), ternyata bapak itu kerja di Kemahasiswaan UNS, dia juga abis dari Jakarta bawa seorang anak lulusan SMK yang dia bilang sih “adiknya” ternyata bukan. Akhirnya kereta Pramexnya pun datang, gue nyokap sama anak cowo itu masuk duluan, nah si bapak naik belakangan terus dia gak dapet tempat duduk, akhirnya dia berdiri. Gue duduk sebangku sama anak cowo itu yang namanya Aldi kalo gak salah, terus depan gue ada anak UNS sama cewek bule. Cewek bule ini hebat banget, baru tinggal di Indonesia selama 8 bulan tapi udah lancar Bahasa. Kita berempat ngobrol santai, pertama sih cewek bule itu duluan yang ngajak ngobrol terus dia ngasih sesuatu kayak semacam kartu nama, ternyata dia bekerja di pelayanan masyarakat untuk agama Katolik, dia pergi bersama ketiga temannya dan hanya seorang yang WNI. Awalnya dia memperkenalkan diri, terus kami juga memperkenalkan diri kami, sewaktu dia ngasih kartu nama itu ke gue, dia agak canggung karena mungkin gue memakai jilbab, lalu dia nanya agama kita apaan, karena kebetulan semuanya Muslim (gue, Aldi, dan cewek UNS). Terus kita saling tanya, ternyata dia berumur 20 tahun (sama lah kayak gue tapi kayaknya sih tuaan gue) dari California, ok fix di situ gue paling tua, karena Aldi berumur 18 tahun dan cewek UNS itu berumur 17 tahun tapi entah kenapa gue ngeliat cewek bule ini kayak udah berumur 25 tahun, mungkin karena hormon kematangan gen kaukasoid emang kelewatan kali yaa…

Akhirnya setelah 2 jam perjalanan, kami sampai di Stasiun Solo Balapan. Di stasiun inilah akhirnya gue berpisah sama bapak itu dan Aldi, sumpah baru pertama kenal Aldi rasanya udah kayak kenal lama aja. Bapak itu emang baik banget nyampe mau nyariin becak menuju Terminal Solo buat naik Bus MIRA jurusan Solo-Surabaya. Akhirnya gue sama nyokap naik becak dilanjut naik Bus MIRA. Entah karena emang gue prefer naik bus, gue baru bisa tidur bener-bener nyenyak di dalam bus ini. Busnya enak banget kayak bus malam yang biasa gue naiki. Sekitar 3,5 jam perjalanan dari Solo menuju Madiun dan kita berhenti untuk beristirahat dahulu di rumah sepupu gue yang berada di Jiwan. Sesampainya di Jiwan, gue langsung mandi dan makan siang. Selang setengah jam setelah makan siang, bude gue mengajak kami makan di Pusat Ayam Bakar Gandu, sebenernya perut masih penuh sama nasi yang baru gue makan, tapi ngedenger kata ayam bakar, gimana gue mau nolak *ngiler*

Akhirnya gue IYA-in. Perjalanannya sih dekat hanya membutuhkan waktu 15 menit. Dan ketika ayam bakar itu disajikan, beeuuhh rasa kenyang di perut semuanya hilang. Bukan lebay, ayam bakar ini adalah ayam bakar terenak yang pernah gue makan, karena disajikan bersama lalapan, sambel bawang, sambel terasi, urap, dan sayur tolo. Bukti bahwa ayam bakar ini bener-bener enak dari kondisi piring yang gue pake buat makan bersih tanpa sisa padahal gue baru selesai makan. Selesainya andok (read: makan di luar) di Ayam Bakar Gandu, kami langsung kembali ke rumah dan beristirahat sejenak sebelum kembali ke rumah mbah di Madiun.

DAY 3 (Jumat, 05 September 2014) : NGAWI, JAWA TIMUR

Rasanya gue bakalan gemuk kalo terus-terusan tinggal di sini karena sehabis makan malam, sekitar pkl 7 malam, Om Hani menghubungi nyokap dan mengajak kami untuk menyantap seafood bersama di Ngawi (sumpah mau makan aja jauh banget, lama perjalanan kayak dari Cibinong-Bogor dengan mobil). Karena ada yang mau mentraktir, gue dan nyokap tidak akan menolak walaupun baru saja selesai makan malam. HAHAHA... Om Hani ini seorang pengusaha keturunan Cina yang merupakan teman SMA nyokap. Kalo ngedenger nyokap dan Om Hani bercanda udah kayak gak inget umur-_- HAHAHA...

Kami pergi bersama Isteri Om Hani yang bernama Tante Emi Tan dan anaknya yang bernama Mas Adi. Satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di pusat Kota Ngawi untuk menyantap seafood di sebuah kedai kecil bernama Sari Laut (setau gue di Madiun ada deh, kenapa jauh-jauh ya-_- denger-denger sih enak). Kami memesan ikan bawal bakar, kerang dara saus tiram, udang asam manis. udang goreng, kepiting asam manis, kepiting rebus, dan nasi untuk 5 porsi (Om Hani kalo mesen menu gak make mikir, ujung-ujungnya dibawa pulang karena gak habis-_-). Setelah selesai makan, akhirnya gue dan nyokap sampai rumah mbah sekitar pkl setengah 12 malam.

DAY 4 (Sabtu, 06 September 2014) : DESA KRESEK, MADIUN, JAWA TIMUR

Hari Sabtu tgl 06 September 2014, nyokap ngajak gue, Mbak Ina, Bude Tik, Pakde Rus, dan Tante Dudin makan-makan di daerah Grape. Grape merupakan pusat makanan lesehan yang bertajuk persawahan dan perhutanan yang dapat ditempuh dengan lama perjalanan sekitar 30 menit dari pusat Kota Madiun. Awalnya gue penasaran sama tempat yang dulu pernah menjadi tempat pembantaian PKI Madiun pada tahun 1948 yaitu di Desa Kresek, tidak jauh dari Grape. Di sini terdapat monumen kekejaman PKI yang hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki karena tempatnya lumayan tinggi dan harus menapaki tangga. Dahulu tempat ini juga pernah menjadi lokasi syuting Mister Tukul karena tempat ini dianggap angker. Entahlah gue gak tau angker atau engga karena tujuan gue ke sini karena penasaran dengan sejarahnya. Seperti ini nih fotonya (model nyokap dan Tante Dudin)
 
Monumen Pembantaian PKI di Desa Kresek, Madiun
Setelah puas melihat-lihat tempat bersejarah itu, lalu kami menuju Grape karena emang perut udah gak bisa dikompromi, pengennya selalu dimasukin ayam bakar, lalapan, dan sambel bawang. Makanan di Grape ini gak beda jauh dengan yang di Gandu lalu, kami memesan ayam bakar 1 ekor, lalapan, sambel bawang, sambel terasi, ikan asin goreng, urap, sayur lodeh, tape ketan, es kelapa ijo utuh, es kelapa gelas, dan nasi untuk 6 porsi. Kami makan lesehan di saung yang tempatnya sejuk dan nyaman (cocok buat kalian yang demen kulineran). Lokasinya tuh dekat dengan hutan untuk Camp, persawahan, dan kali berbatu yang super bening, pokoke maknyus. Makan di Grape ini juga gak perlu khawatir soal kocek karena muraaaaaaah pake banget. Kalo mau tau, kami cuma menghabiskan kocek sebesar Rp 150.000 buat menu sebanyak itu. Setelah makan, kami main-main sebentar di kali, biasalaaah nyokap dan Tante Dudin lagi kumat narsisnya. Tadinya kami mau terapi ikan tapi karena abangnya hilang entah kemana, akhirnya kami bermain air di kali, duduk-duduk dari satu batu ke batu lainnya sambil foto-foto. Nih fotonya (model nyokap dan Tante Dudin).

Sungai-sungai Berbatu di Grape

DAY 5 (Minggu, 07 September 2014) : PACITAN, JAWA TIMUR

Hari Minggu tgl 07 September 2014, jadwal gue hari ini adalah tour ke Pacitan, selatannya pulau Jawa yang dikenal dengan Kota 1001 Goa. Pacitan ini daerah yang bener-bener masih asri, rute menuju Pacitan juga cukup menantang karena jalanan menanjak dan berkelok. Bagi orang yang gampang muntah, mungkin udah dehidrasi dan lemes kali yaaa. Selama perjalanan menuju Pacitan, kiri kanan cuma pemandangan bebatuan kapur seperti di daerah-daerah gurun di Amerika Serikat yang banyak kaktus dan cowboynya. Awal mula tour ke Pacitan ini karena mau mengunjungi teman SMP nyokap dan janji mau diajak jalan-jalan mengelilingi Pacitan. Kita berangkat sekitar pkl 08.30 pagi, dan sampai di rumah teman nyokap sekitar pkl 12 siang. Lalu kita isitirahat sejenak dan dilanjut solat zuhur. 
Kediaman Tante Nurhayati, Teman SMP Nyokap
Setelah itu kita diantar berjalan-jalan mengelilingi Pacitan. Awalnya kita ditawari beberapa alternatif tempat wisata yang direkomendasikan di Pacitan tapi sesuai hasil voting, akhirnya kita memilih Goa Gong dan Pantai Klayar karena memang satu arah. Jadwal tour pertama yaitu ke Goa Gong. Perjalanan dari Kota Pacitan ke lokasi Goa Gong cukup jauh yaitu ditempuh selama 1 jam. Sebelum melalui perjalanan yang cukup jauh, kita disuguhi santapan makanan laut yang bener-bener menggugah selera, ditambah kita makan di lesehan yang membelakangi pantai yang digunakan sebagai dramaga.

Salah Satu Spot Lesehan
Lesehan, Tempat Menyantap Makan Siang
Menu yang kita santap lumayan banyak yaitu cumi sambal kecap, ikan dorang goreng, ikan tengiri bakar, urap, cah kangkung, oseng kikil, dan minuman. Pokoknya ini emang bener-bener wisata kuliner. Setelah perut dirasa sudah penuh, kita melanjutkan perjalanan menuju Goa Gong. Goa Gong merupakan salah satu goa di Pacitan yang telah dipatenkan oleh Dinas Pariwisata Pacitan dan sekarang Goa Gong dilengkapi lampu berwarna-warni untuk memudahkan wisatawan menyusuri Goa. Goa Gong ini cukup unik karena apabila kita memukul stalaktit dan stalagmit yang ada di goa tersebut dapat menghasilkan bunyi seperti gong.


Goa Gong Tampak Luar
Goa Gong Tampak Dalam
Setelah kami puas menikmati Goa Gong, perjalanan kami dilanjutkan menuju Pantai Klayar yang lagi-lagi hanya dapat ditempuh melalui rute yang cukup menantang selama 1 jam dari lokasi Goa Gong. Namun rasa lelah dan sedikit mual semua terbayar ketika hamparan laut biru mulai menunjukkan wajahnya dengan beberapa karang seperti Patung Sphinx yang berdiri gagah ketika mobil kami mulai menuruni jalan demi jalan. Karena saya menggunakan sepatu sneaker, akhirnya saya menyeker dari parkiran mobil menuju pantai.

Pantai Klayar dari Barat
Pantai Klayar dari Timur
Seperti biasa, kegiatan kami selama di pantai yaitu potret memotret. Aku berjalan sendiri memotret tiap sudut laut sedangkan nyokap dan temannya sibuk dengan dunianya, yaitu groufie. Oh iya sebelumnya saya ceritakan sedikit mengenai Pantai Klayar. Konon katanya dibalik pesona Pantai Klayar yang eksotis, ternyata Pantai Klayar merupakan pantai terangker di Pulau Jawa karena selalu memakan korban jika tidak berhati-hati (ya maklum namanya laut selatan yang berhubungan langsung dengan Samudera Hindia, pasti ombaknya besar). Di Pantai Klayar ini terkenal dengan seruling ombaknya yang akan menyemburkan air disela-sela karang dengan mengeluarkan bunyi seperti seruling. Namun percaya atau tidak percaya, ombak hanya bisa datang ketika dipanggil oleh pawang yang berjaga di lokasi dengan cara bersiul. Karena jarak dari parkiran menuju seruling ombak lumayan jauh, kami menyewa jasa ATV sebanyak 3 buah.

Om Hari Berpose Membelakangi Cahaya Bulan
Seruling Ombak di Pantai Klayar
Salah Satu Spot Dekat Seruling Ombak
Sunset di Pantai Klayar

Setelah kami puas menikmati senja di lokasi seruling ombak pada pkl 6 sore, pawang yang berjaga mulai memberikan pengumuman bahwa lokasi akan segera ditutup. Lokasi seruling ombak ini yang konon banyak memakan korban sehingga sejak kejadian hilangnya salah satu wisatawan beberapa bulan lalu, lokasi ini mulai dijaga ketat dan sebagian dipagari agar tidak ada wisatawan yang melintas lokasi tersebut. Dua jam kami lalui di Pantai Klayar dan hari sudah mulai gelap, akhirnya kami bergegas pulang menuju rumah teman nyokap. Sebelum tiba, kami disuguhi Soto Pacitan di kedai yang tak jauh dari rumah teman nyokap (HAHAHA dari kemarin wisata kuliner terus, alhasil massa gue naik 1 kg). Setibanya di rumah teman nyokap sekitar pkl 8 malam, kami menumpang membersihkan diri dan solat isya sebelum melanjutkan perjalanan pulang menuju Madiun karena akan membutuhkan waktu yang cukup lama, terlebih hari sudah gelap yang akan membahayakan pengendara jika berkendara terlalu lelah karena rute yang dilalui melewati hutan, jurang, dan pegunungan kapur. Sekitar pkl 20.30 malam akhirnya kami semua pamit, dan perjalanan menuju Madiun membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Sesampainya di Kota Madiun pada pkl 23.30 malam, salah satu teman nyokap mengajak menyeruput kopi dan jahe hangat untuk menghilangkan lelah di sebuah angkringan. Gue, nyokap, dan lainnya memesan nasi kucing untuk sedikit mengganjal perut (perasaan udah makan deh tadi, gapapalah namanya juga nasi kucing pasti porsinya sedikit).

DAY 6 - DAY 10 (Senin, 08 September 2014 - Jumat, 12 September 2014) : MADIUN

Stay at Rumah Mbah

DAY 11 (Sabtu, 13 September 2014) : SITUBONDO, JAWA TIMUR

Jadwal tour kami selanjutnya yaitu Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Rencana berlibur ke Kabupaten Situbondo berawal dari  keinginan gue untuk mengunjungi tempat wisata savana yang berada di daerah Banyuputih (perbatasan antara Situbondo dengan Banyuwangi) yang sering gue lihat informasinya melalui internet (gak nyangka akhirnya gue bisa menginjakkan kaki gue di sini). Kebetulan nyokap memiliki teman SMA yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Situbondo bernama Om Tulus Priatmaji yang akan menemani kita semua selama berada di Kabupaten Situbondo, sekaligus sebagai penyedia tempat penginapan HEHEHE..

Well, kami berangkat bersama keempat teman SMA nyokap yang lainnya bernama Tante Noniek, Tante Anna, Tante Asri, dan Tante Retno dengan menggunakan kereta api. Jadwal keberangkatan kereta api pkl 11.30 yang melaju dari Stasiun Madiun dan dijadwalkan tiba di Stasiun Probolinggo pada pkl 17.00 (FYI di Situbondo belum ada terminal dan stasiun). Kami menggunakan jasa kereta api ekonomi seharga Rp 50.000 per orang, LIKE THIS gaya nyokap gue kalo udah ngumpul sama temen-temennya!!!

Nyokap dan Ketiga Teman SMA-nya
Setelah kurang lebih menempuh perjalanan selama 5,5 jam, akhirnya kami tiba di Stasiun Probolinggo pkl 17.30. Di sana kami disambut dengan hangat oleh Om Tulus dan isterinya yang bernama Tante Henny yang sudah menunggu sejak pkl 16.30 HEHEHE maaf ya Om Tulus jadi menunggu lama (maklum kami kan naik kereta ekonomi yang sebentar-sebentar berhenti). Untuk menuju kediaman Om Tulus yang berada di Situbondo, kami harus menempuh perjalanan kembali selama 2 jam dengan menggunakan mobil pribadi. Sepanjang mata memandang, daerah Probolinggo – Situbondo sangat berbeda dengan kota-kota besar di Pulau Jawa, dua kata buat daerah ini “SEPI DAN GELAP”. Kebosanan sempat melanda kami (khususnya gue) selama perjalanan karena pemandangan yang gue lihat hanya beberapa rumah khas pantura dan hutan-hutan gelap. Tetapi semua kebosanan gue terbayar ketika melewati kawasan PLTU Paiton yang merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga uap terbesar di Pulau Jawa yang terletak di Paiton, Probolinggo. Empat kata buat PLTU Paiton “BESAR, LUAS, KELAP-KELIP, INDAH”. Sayangnya gue gak sempat memotret keindahan PLTU Paiton pada malam hari walaupun Om Tulus menawarkan untuk berhenti hanya sekedar memotret tetapi karena rasa lelah ini udah gak tertahankan, akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan.

Setelah 2 jam perjalanan kami lalui, Om Tulus mengajak kami untuk memanjakan perut di sebuah lesehan di tengah laut Pasir Putih untuk menyantap ikan kerapu bakar (tau saja kalo perut kami mulai keroncongan HEHEHE). Sayangnya pusat makanan lesehan di tengah laut Pasir Putih ini tidak dilengkapi pencahayaan yang memadai sehingga dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk memadu kasih (andai gue bawa lampu laser, pengen rasanya gue laserin satu-satu HAHAHA maklum keisengan gue lagi kumat). Ada beberapa keuntungan tinggal di daerah gelap dan sepi kayak gini, coba sekali-kali lo dangakin kepala lo ke atas dan lihat “SUBHAHANALLAHU ITU MILKY WAY..IYA ITU MILKY WAY”, lo bakal tercengang melihat jutaan bintang bertaburan di langit yang mana cuma bisa lo liat 1-4 biji bintang di langit Bogor. Situbondo ini bisa dibilang daerah yang curah hujannya cukup rendah dan polusi udara serta cahaya yang masih minim. Sayangnya gue gak kepikiran buat membawa kamera SLR, alhasil gue cuma bisa memotret keindahan alam ini dengan kamera seadanya. Tapi gapapa, semua udah terekam di otak gue.

Ikan Kerapu Bakar
Makan ikan kerapu bakar udah, liat milky way udah, liat orang pacaran udah, saatnya kami pulaaanggggg. Sesampainya di rumah Om Tulus, gue disambut oleh 2 ekor makhluk terimut yang bernama Garfield dan si Item. Garfield dan si Item ini adalah kucing peliharaan Om Tulus.

Si Item dan Garfield
Garfield, Si Imut Berbulu Tebal
Kalo udah ketemu makhluk imut ini, rasa lelah yang menghinggapi tubuh gue hilang seketika (ini bukan lebay). Sembari menunggu giliran mandi, gue bermain-main dengan Garfield dan si Item ini. Selesainya mandi, rasa lengket yang bikin gue gak nyaman di tubuh inipun hilang dan akhirnya kami beristirahat untuk melanjutkkan trip keesokkan harinya.

DAY 12 (Minggu, 14 September 2014) : SITUBONDO - BANYUWANGI, JAWA TIMUR

Mentari pagi Situbondo menyapa kami yang cuma tertidur beberapa jam. Jam menunjukkan pkl 05.30, gue mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat subuh. Terdengar suara seseorang sedang memasak di dapur dan ternyata itu adalah Tante Henny yang sedang menyiapkan sarapan untuk kami semua (terima kasih atas pelayanan yang terbaik buat om dan tante :D). Setelah itu kami sarapan, lalu membersihkan diri untuk bersiap melanjutkan trip kami yang pertama, yaitu menuju Taman Nasional Baluran yang terletak di Banyuputih (Taman Nasional Baluran ini masih termasuk dalam kawasan Situbondo). Perjalanan dari kediaman Om Tulus pkl 07.00 menuju Taman Nasional Baluran cukup jauh, sekitar 1,5 jam dengan menggunakan mobil pribadi.

FYI bagi blogger yang belum tau apa, dimana, dan bagaimana sih Taman Nasional Baluran itu, oke gue jelasin sekalian buat promosi bagi agan-agan dan sist-sist yang suka travel :D

Taman Nasional Baluran merupakan taman nasional berupa kawasan padang rumput kering yang terletak di Banyuputih yang merupakan perbatasan Situbondo dan Banyuwangi yang terkenal dengan sebutan “Africa van Java”. Bagi agan dan sist yang sering bolak-balik Jawa – Bali via darat pasti sering melewati daerah ini. Untuk menikmati keindahan Taman Nasional Baluran hanya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan karena jarak dari tempat pembelian tiket menuju pusat wisata cukup jauh, sekitar 1 jam dari tempat pembelian tiket dengan kecepatan 60 KM/H. Namanya juga padang rumput kering kayak di Afrika, pasti suhu udaranya sangat tinggi. Ya memang daerah ini memiliki suhu yang cukup panas, terlebih apabila agan dan sist mengunjunginya saat musim kemarau, kita akan merasakan atmosfir seperti berada di Afrika. Menurut informasi yang gue dapet, Taman Nasional Baluran ini ditempati oleh berbagai satwa liar dari berbagai spesies, seperti monyet, ayam hutan, burung merak dan burung lainnya, kijang, kerbau, kucing hutan, rusa, macan tutul, ular, dan yang terkenal adalah banteng serta beberapa jenis tumbuhan. Tapi jangan khawatir, di sini gak ada kawanan singa yang sering kita lihat di TV seperti savanna di Tanzania. Macan tutul hanya tinggal di tempat-tempat tertentu. Taman Nasional Baluran ini memiliki beberapa tempat yang bisa dijadikan tujuan objek wisata, seperti Bekol yang merupakan padang rumput kering, Bama yang merupakan pantai yang sunyi karena di pantai ini jarang terjadi ombak, dan Evergreen yang merupakan satu-satunya daerah terhijau di kawasan ini karena air selalu mengalir di tempat ini. Di Evergreen inilah tempat gue bertemu ular phyton dan ayam hutan. Usut punya usut, di tempat ini juga merupakan habitat macan tutul (kalo agan dan sist gak percaya, coba aja masuk ke Hutan Evergreen, siapa tau agan dan sist beruntung bisa bertemu macan tutul). Di tempat ini pula banyak traveler yang melakukan penelitian (mungkin untuk meneliti kenapa di tempat ini selalu hijau sepanjang tahun). Sayangnya selama gue menyusuri TN Baluran, gue gak bertemu dengan kawanan banteng, hewan khas TN Baluran ini. “OMG TN Baluran banyak bantengnya? Berarti jangan pake baju merah dong! Takut aahh” “Tenang aja, kalian boleh pake baju warna apa aja karena banteng itu buta warna. Dia nyeruduk bukan karena warnanya tapi karena gerakannya”.


Hutan Evergreen (Photo by Google)
Nyokap dan Teman-temannya Berpose
Gue Membelakangi Gunung Baluran (Gunung Api yang Sudah Tidak Aktif)
Seperti savana di Afrika, kan?
TN Baluran (1)
TN Baluran (2)
TN Baluran (3)
Jalan Raya Menuju TN Baluran (Rute Banyuwangi - Bali)
Selanjutnya kami melepas lelah di sebuah pantai yang cukup sunyi (bisa dibilang private beach karena jumlah pengunjung masih terbilang sedikit) bernama Pantai Bama. Di Pantai Bama ini disediakan wisata Snorkling dan Speed Boat buat agan dan sist yang ingin mengenal Pantai Bama lebih dekat. Pantai Bama ini dikelilingi oleh Hutan Bakau yang merupakan habitat monyet liar dan ular. Di sepanjang pantai ini banyak sekali monyet liar, jadi bagi kalian yang ingin mengunjungi pantai ini diharapkan jangan membawa barang berharga, dikhawatirkan monyet nakal tersebut akan mengambil barang kalian. Sebagai contoh monyet ini nyuri botol minum gue.


Monyet yang Mencuri Minumanku
Pantai Bama (1)
Pantai Bama (2)
Setelah dirasa cukup puas menikmati keindahan TN Baluran, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami menuju Pantai Pasir Putih. Saat meninggalkan TN Baluran, jam menunjukkan pkl 13.00. Karena perut kami sudah mulai lapar, yang empunya rumah mengajak kami menikmati lele bakar di sebuah kedai yang bernama Istana Lele sambil melaksanakan salat zuhur yang tak jauh dari lokasi Pantai Pasir Putih. Di kedai ini juga terdapat peternakan ikan lele, waahhh “sekali mendayung, dua pulau terlampaui”, gitu kali ya pepatah yang cocok buat kedai ini. BTW enak gak??? Beeuuhhh jangan ditanya… Enak pake banget, bumbunya merasuk, pokoknya maknyusssss. Kalo menurut gue, lebih enak dari ikan kerapu bakar semalem.

Perut udah kenyang, rasa lelah udah hilang, muka udah seger karena abis wudhu, saatnya kami melanjutkan trip kami ke Pantai Pasir Putih. Saat itu jam menunjukkan pkl 16.00 ketika kami tiba di Pantai Pasir Putih. Kenapa sih kok disebut Pantai Pasir Putih? Sebenernya sih pasir semua pantai warnanya putih ya, mungkin karena daerahnya bernama Pasir Putih makanya disebut Pantai Pasir Putih. Pantai Pasir Putih ini tidak seluas Pantai Klayar, namun Pantai Pasir Putih ini memiliki ombak yang relatif kecil (karena terletak di pantai utara) dan pantai yang super bening. Kami menaiki perahu layar untuk 6 orang dengan mengeluarkan kocek seharga Rp 100.000. Sungguh pengalaman liburan yang menyenangkan, kami dibawa oleh nahkoda perahu (cie elah nahkoda, apalah namanya itu buat abangnya yang ngendaliin perahu) hingga berjarak beberapa ratus meter dari bibir pantai. Perahu layar ini dikendalikan menggunakan layar super besar yang memanfaatkan tenaga dan arah angin. Yang bikin gue heran, kami ini udah di tengah laut lho tapi rasanya melihat laut itu seperti dangkal karena masih bisa terlihat karang dan beberapa spesies ikan sedang menari-nari di dalam air, lalu gue iseng bertanya kedalamanan laut ini sama abangnya, ternyata cuma 2 meter. Masih amanlah kalo nih kapal tiba-tiba jungkir balik atau apalah. Dari sini gue bisa melihat keindahan sunset dan juga gunung puteri (disebut gunung puteri karena menyerupai perempuan yang sedang terlentang).


Pantai Pasir Putih dari Timur
Pantai Pasir Putih dari Barat
Gunung Puteri, Pasir Putih, Situbondo
Sunset di Tengah Laut
Sunset di Sepanjang Pantai Pasir Putih
Seperti biasa, sebelum pulang, kami membeli oleh-oleh khas Situbondo yang kebanyakan berbahan dasar tape seperti bolu tape, prol tape, suwir-suwir, dan lain-lain. Cukup sekian liburan kami di Situbondo. Akhirnya kami pamit pulang dan mengucapkan terima kasih setelah Om Tulus dan Tante Henny mengantar kami sampai ke Terminal Probolinggo. Karena jadwal kereta pada malam hari sedang kosong, kami menggunakan jasa bus menuju terminal Madiun. Saat tiba di Terminal Madiun, jam menunjukkan pkl 02.30 (Kota Madiun seperti kota mati, berbeda dengan Cibinong, Bogor, ataupun Jakarta yang sudah menunjukkan aktivitasnya saat pkl segini). Akhirnya gue dan nyokap menyewa jasa taksi hingga diantar sampai ke rumah mbah.