Sunday, 7 August 2016

CERPEN: BERMULA SECAWAN KOPI HANGAT

August 07, 2016 by Tia Esha Nombiga

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

BERLIN
Winter 2015
Gumpalan salju yang terbentuk dari milyaran kristal es berjatuhan menutupi seluruh jalan, pepohonan, dan atap rumah. Lima lapis baju yang ku kenakan seakan tak mampu menghalau angin dingin yang berhembus hingga mampu menusuk tulangku. Bahkan cahaya mentari pada pagi hari yang menyeruak menembus awan tak mampu membuat udara mengalah untuk menaikkan temperaturnya, setidaknya di atas -5oC.

Aku menyadari bahwa sepanjang malam hanya tertidur beberapa jam saja, dengan sesekali terjaga. Aku masih belum mampu melupakan kenanganku dengan orang-orang terkasih yang pernah menjadi bagian hidupku. Aku kehilangan Ayah dan wanitaku dalam kurun waktu satu tahun. Ayahku meninggalkan dunia yang fana ini akibat penyakit jantung yang tidak pernah disadari olehnya sekitar tiga bulan lalu sedangkan wanitaku pergi meninggalkanku karena tak sanggup menjalani hubungan jarak jauh denganku. Sebenarnya banyak problema yang kami hadapi. Rasanya tidak mungkin jika putus cinta hanya karena hubungan jarak jauh. Toh studiku sudah rampung tahun depan jika tidak ada aral melintang. Aku bertekad bahwa aku harus segera menyelesaikan studiku di Berlin agar aku bisa kembali ke tanah air. Kebetulan Ibuku hanya tinggal seorang diri di Surabaya karena kakakku sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Aku adalah seorang anak laki-laki berumur 20 tahun yang sedang berjuang menuntut ilmu keteknikan di benua jiran. Saat ini aku tengah menempuh pendidikan tingkat akhirku untuk memperoleh gelar sarjana teknik di Universitat Technische Berlin.

Dua jam sudah aku terbuai dalam lamunanku, lantas aku tersontak kaget karena aku memiliki jadwal kuliah yang harus aku jalani satu jam mendatang. Aku bergegas memanfaatkan separuh waktuku yang tersisa untuk membersihkan diri walau pada saat itu udara dingin sangat menusuk. Setibanya di kampus, aku menyempatkan diri untuk sarapan dengan membeli sedikit makanan ringan serta se-cup kopi susu hangat. Seperti biasanya, otakku sepertinya sudah diatur untuk tidak menerjemahkan semua informasi yang disampaikan oleh dosen mata kuliah Rekayasa Pondasiku jika berbicara mengenai filsafat. Tiba-tiba terdengar suara lirih berbicara kepadaku (dalam bahasa Jerman tentunya)

“Bisakah kamu mengajariku cara menyelesaikan soal ini?” *Wanita bule ini menyodorkan soal perhitungan pondasi beton bertulang yang kebetulan memang keahlianku*
“Mmm beri aku waktu sebentar, aku akan menyelesaikannya.”
Dalam waktu tak sampai 5 menit, aku mampu menyelesaikan soal itu. Kemudian aku memberitahu cara menyelesaikan soal itu dengan trik yang kubuat sendiri. Wanita bule ini tampaknya senang dengan trik mudah yang kuberikan kepadanya.
“Ich heisse Scott, Stefanie Noelle Scott. Wie heist du?”tanya wanita bule tersebut.
“Namamu Scott? Kamu pasti bukan berasal dari Jerman.”
“Bagaimana kamu bisa tahu? Padahal aku belum menyebutkan darimana asalku.”
“Aku hapal nama-nama orang di seluruh dunia ini. Namaku Bayu Faisal Hartono. Asalmu dari mana?”
“Kamu tahu aku bukan dari Jerman tapi kamu bertanya darimana asalku? *mengernyitkan dahi* Aku dari Los Angeles, California. Kamu?
“Aku hanya menebak. *tertawa* Aku dari Indonesia.”
*ikut tertawa* Bali?”
“Ya benar. Kamu pernah ke Bali?”
“Belum. Namun aku tahu nama lain Indonesia adalah Bali.”
“Kamu salah, Bali itu adalah nama salah satu pulau di Indonesia. Kamu tahu, Indonesia adalah negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut yang sangat kaya akan biota alamnya. Kamu harus mengunjungi Indonesia jika ada waktu senggang.”
“Benarkah? Aku akan mencobanya musim panas ini, kamu mau mengantarku?”
“Tentu.”sahutku.
“Aku akan mengantarmu ke Amerika jika kamu mau.”balas Stefanie.
“Aku seorang Muslim. Bukankah apabila Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, dia tidak akan mengijinkan Muslim untuk mengunjungi negaramu?”
“Lantas Donald Trump tidak akan mengijinkan Raja Saudi Arabia yang kaya raya untuk mengunjungi negaraku.”sanggah Stefanie.
“Ya seharusnya Trump tidak pilih kasih.”balasku.
“Kalau begitu aku tidak akan memilih Trump agar kamu dapat mengunjungi negaraku.”
“Aku suka sekali dengan gaya berbicaramu Mrs. Scott. Ngomong-ngomong kita belum pernah bertemu sebelumnya? Sebelumnya kamu pernah mengambil kelas ini?”
“Aku sudah sering bertemu denganmu. Dengar cerita, kamu salah satu mahasiswa yang cerdas, oleh karena itu aku mendekatimu untuk bertanya soal ini, dan ternyata kamu memang cerdas. Pasti kamu sering pergi ke perpustakaan untuk mencari literatur?”
“Kata siapa? Aku cerdas hanya karena aku tidak tertidur seperti dia *menunjuk mahasiswa yang tertidur* saat Herr Hartmann menjelaskan tentang filsafat hidupnya *tertawa*.”
*ikut tertawa* Kamu bisa berkelakar juga Mr. Hartono.”
“Panggil saja aku Bayu.”
“Kalo begitu panggil saja aku Stefanie.”

Sepertinya aku mulai menemukan cahaya baru di dalam hidupku. Cahaya yang menuntunku di dalam kegelapan menuju jalan keluar. Sejak pertama kali bertemu dan berbicara dengan Stefanie, kali pertama jantung ini merasakan kembali rasanya memompa darah dengan frekuensi di atas manusia normal. Jantungku berdetak lebih kencang jika cinta mengalir dan menyumbat sepanjang pembuluh darahku. Kami hampir setiap hari mengambil kelas dan dosen yang sama sehingga membuat kami intens bertemu.

Saat senja yang layu mulai menunjukkan wajahnya, aku melihat Stefanie terlibat cekcok dengan wanita bule berwajah sedikit oriental dengan tinggi semampai di taman kampus. Wanita itu meninggalkan Stefanie yang menangis tersendu-sendu. Aku mendekati Stefanie untuk menanyakan apa yang terjadi. Dia bercerita bahwa wanita itu adalah sahabat sekampungnya bernama Kelsey Chow. Dia cemburu karena aku sering bersama dengan Stefanie. Aku memahami hal ini karena membuat Stefanie tidak memiliki banyak waktu untuk bersenda gurau dengan Kelsey, sahabatnya.


***

Aku menemukan gelagat yang aneh pada diri Stefanie sejak peristiwa cekcok itu. Tidak seperti biasanya dia menjauhiku, bahkan saat aku memanggil namanya di koridor kampus. Seakan dia tidak mengenaliku dengan memalingkan wajahnya. Aku berusaha mencari tahu yang terjadi. Tidak mungkin seorang sahabat perempuan melarang sahabat perempuannya untuk menjalin kasih atau sekedar berteman dengan teman prianya. Aku membuntuti Stefanie dan mendapati dia bertemu dengan Kelsey di taman pinggir sungai. Tanpa diduga, mataku terbelalak melihat Stefanie bermesraan dengan sahabat perempuannya itu. Bibir mereka saling bertautan tanpa memedulikan orang di sekitar. Ini bukan lagi kasih sayang seorang sahabat kepada sahabat, melainkan kasih sayang seperti sepasang kekasih.

Akhirnya aku menyadari bahwa selama ini aku mengagumi dan mencintai seorang Lesbian. Sejak saat itu pula aku menghapus segala sesuatu yang berhubungan dengan Stefanie seperti arsip percakapan di media elektronik, hadiah, foto, bahkan minyak wangi miliknya yang tertinggal di flatku walau itu sangat berat. Hanya memori kenangan dalam otakku yang tersisa. Aku ingin amnesia saja rasanya. Aku tahu bahwa menjadi Lesbian itu bukan keinginannya dan tak seharusnya aku memusuhinya karena dia tetaplah manusia yang seharusnya diperlakukan dengan baik. Namun hatiku telanjur hancur karena Stefanie tega meninggalkan benih cinta di dalam hatiku tanpa memberitahu latar belakang dia terlebih dahulu.

Satu bulan telah berlalu tanpa hadirnya sapaan pagi yang hangat dari Stefanie. Aku merindukan kebersamaanku dengan Stefanie. Aku tidak pernah melihat dia berada di kelas yang biasa kami tempati. Hanya sesekali dan itupun seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Aku tahu Stefanie pernah mencintaiku. Aku bisa merasakan melalui tatapan mata cokelatnya yang seakan berbinar apabila menatapku. Aku berusaha mencari tahu apa yang dirasakan Stefanie saat ini. Aku takut jika Stefanie berada pada kondisi yang tidak bahagia dan terkungkung oleh pacar wanitanya yang posesif. Dengan berani, aku menghampiri Kelsey di flatnya saat Stefanie sedang kuliah.

“Mengapa kamu melarangku bertemu Stefanie?”tanyaku pada Kelsey.
“What’s your problem?”tanya Kelsey balik.
“AKU MENCINTAI STEFANIE.”jawabku Bayu.
*Kelsey tertegun mendengar jawabanku*
“Tak seharusnya seorang sahabat perempuan melarang sahabat perempuannya untuk memperoleh kebahagiaan bersama laki-laki yang dia cintai.”sambungku Bayu.
“Kebahagiaan apa yang bisa kamu berikan?”
“Yaa aku bisa membuatnya merasa nyaman dan aman di dekatku.”
“Jangan ganggu dia lagi atau aku … “

Belum sempat melanjutkan perkataannya, Stefanie datang. Kemudian dengan sigap, Kelsey menarik tangan Stefanie lalu menyuruhnya masuk. Aku hanya terdiam dan tak mampu berbuat apa-apa. Aku pulang dengan berjuta pertanyaan di kepalaku. Aku merasakan bahwa Stefanie tidak bahagia. Aku bisa membaca matanya seperti memintaku untuk tetap tinggal.

Keesokkan harinya, tanpa disengaja aku bertemu Stefanie pada jam kosong di Hall D kampus. Aku memanggilnya namun Stefanie tidak mengindahkanku. Aku melihat matanya menghitam seperti orang yang baru saja menangis dalam waktu yang cukup lama. Aku terus mengejar Stefanie untuk meminta penjelasan darinya. Akhirnya ia luluh dan mau berbicara denganku. Dia menjelaskan alasannya menjauhiku karena ayahnya tidak menyukai apabila anaknya berteman dengan Muslim. Menurutnya Muslim adalah penjahat berkedok agama. Namun bukan itu jawaban yang aku inginkan. Stefanie melengos dengan menggelengkan kepala tanpa menjawab semua pertanyaanku.

Sejak saat itulah aku tidak lagi berusaha menemui Stefanie. Aku tahu bahwa masa depanku yang sebentar lagi ku raih telah berada di depan mataku. Aku tak mau semua masalah ini mengganggu konsentrasiku untuk segera menyelesaikan studiku. Aku berusaha melupakan Stefanie dengan menyibukkan diri, setidaknya untuk mengurangi bayangan Stefanie di kepalaku yang mau pecah ini karena terlalu sesak memenuhi kepalaku.

BERLIN
Summer 2016 Atau Dua Bulan Kemudian
Ketika sang mentari mulai menyinari bumi bagian utara lebih banyak dari beberapa bulan yang lalu, jarum jam dimajukan sebanyak satu angka pada pukul 2 dinihari menjadi pukul 3 menunjukkan libur musim panas telah tiba. Biasanya aku melakukan perjalanan santai bersama temanku untuk memanfaatkan Visa Schengen agar dapat mengelilingi Uni Eropa. Namun sekarang aku harus lebih hemat dalam menggunakan uang sakuku selama satu bulan karena ayahku sebagai tulang punggung telah meninggal. Aku merasa tidak enak hati jika harus meminta uang tambahan kepada kakakku karena dia sudah berkeluarga. Aku berencana mencari pekerjaan paruh waktu untuk menambah uang sakuku. Sebenarnya banyak dosen di kampusku yang menawariku proyek fakultas, namun aku menolaknya karena belum percaya diri dengan kemampuanku.

Setelah mencari lowongan pekerjaan paruh waktu dibeberapa situs internet, akhirnya aku menemukan pekerjaan yang cocok denganku yaitu sebagai penyanyi di salah satu kedai kopi di sudut Kota Berlin. Ternyata kedai kopi ini milik orang Indonesia yang bermukim di Jerman. Aku belum menyadari sampai aku bertemu dengan pemilik kedainya. Mas Ratmo, begitu nama pemilik kedai kopi ini mulai menjalani bisnisnya pada tahun 2011 yang diberi nama Jentsch Kaffee. Mas Ratmo ini masih terbilang muda. Umurnya tidak sampai kepala empat jika dilihat dari raut wajahnya yang masih fresh. Namun beliau paham betul bagaimana menjadi seorang leader dalam suatu bisnis. Awal mula Mas Ratmo mendirikan bisnis ini ketika beliau bertemu dengan isterinya di suatu kedai kopi lesehan di Jogjakarta pada tahun 2006. Karena Mas Ratmo dan isterinya sama-sama penikmat kopi, mereka berdua berangan-angan untuk mendirikan kedai kopi bernuansa Indonesia di luar negeri guna memperkenalkan dan melestarikan kopi yang ditanam di tanah tropis Indonesia. Angan itupun terwujud pada tahun 2011. Isteri mas Ratmo merupakan warga asli Jerman. Nama Jentsch pun diambil dari nama belakang isterinya. Awalnya Mas Ratmo menjual minuman kopi yang terbuat dari Kopi Jawa bernama Jampit dan Blawan. Beliau meracik kopinya sendiri sedari berbentuk buah. Karena pengunjung semakin membludak yang tak hanya didominasi oleh turis, mahasiswa, ataupun ekspatriat Indonesia yang tinggal di sana, Mas Ratmo menambah varian menu kopi yang tidak hanya dibuat dari Kopi Jawa, melainkan Kopi Sumatera, Toraja, Papua, dan tentunya tak lupa yang paling mahal dan terkenal, Kopi Luwak. Uniknya pegawai yang dipekerjakan oleh Mas Ratmo ini kebanyakan orang Indonesia, itu sebabnya mungkin aku bisa diterima bekerja di sini. Sungguh kehormatan bagi aku bisa bekerja sama dengan teman sekampung halaman. Aku hanya bekerja pada malam hari dari pukul 20.00 sampai 00.00 setiap hari Selasa, Kamis, dan Jumat. Kebetulan aku memiliki bakat bermusik yang diturunkan melalui gen ibuku. Walupun bayarannya tidak seberapa jika dibandingkan dengan biaya hidup di Jerman, namun cukup untuk memenuhi uang sakuku yang hanya diberikan setengah dari uang sakuku yang biasanya. Dan yang paling penting adalah supaya aku bisa melupakkan semua kenanganku tentang Stefanie. “Why haven’t I moved on yet? Oh God please help me. But I know it’s still 2 months. I need a couple hundred months I guess.”

Aku bersyukur semua pengunjung kedai sangat mengapresiasi suaraku. Mereka mengatakan bahwa suaraku tidak dimiliki oleh suara orang Barat pada umumnya. Aku bahkan tidak mengerti dimana letak perbedaan suaraku dengan suara orang Barat. Mereka mendeskripsikan suaraku lembut namun berat. Aku biasanya membawakan lagu yang sedang terkenal, namun sesekali aku membawakan lagu lawas berbahasa Jerman dan Prancis apabila pengunjung didominasi lansia. Aku juga sering membawakan lagu dari Indonesia dan mereka sangat menyukainya.

*Tujuh Bulan Kemudian*

Aku bergerak secepat mungkin untuk mengejar tram agar tidak terlambat karena aku harus mengisi acara live music di Jentsch Kaffee yang akan dimulai 20 menit lagi. Aku paham sekali kebiasaan warga Jerman sangat menghargai waktu walau hanya beberapa detik saja.

“Maaf mas aku terlambat 3 menit.”kataku Bayu.
“Tidak masalah. Ini salahku. Hari ini Dennis berhalangan hadir. Kamu menggantikan Dennis ya? Ini daftar lagu yang harus kamu bawa.”
“Vielen dank, Mas Ratmo.”balasku.

Tanpa diduga, aku melihat Kelsey duduk bersama seorang pria di ujung ruangan kedai. Sepertinya Kelsey belum menyadari kalau yang bernyanyi adalah aku. Dua jam berlalu, Kelsey dan teman prianya belum beranjak dari kedai. Sepertinya mereka terlibat pembicaraan yang serius, terlihat dari tatapan kedua mata mereka, hanya sesekali canda dan tawa yang dapat dihitung dengan jari karena sedari awal aku memperhatikan mereka.

Lusa, aku bertemu kembali dengan Kelsey di Jentsch Kaffee, namun seorang diri. Aku bertanya kepada temanku, Maximillian, yang juga waiter di sini tentang Kelsey karena ku pikir Kelsey salah satu pelanggan yang sering berkunjung ke Jentsch Kaffee. Ternyata benar, Maxi berkata bahwa Kelsey termasuk salah seorang pelanggan yang sering berkunjung ke kedai ini, terutama pada siang dan sore hari. Maklum, aku bekerja sebagai penyanyi pada malam hari sehingga tidak terlalu memperhatikan pengunjung yang datang. Saat ingin membayar tagihan di meja kasir, Kelsey melihatku dan berusaha menghindar setelahnya. Aku dengan sigap menghampirinya untuk berbicara empat mata. Aku mengajaknya kembali duduk di kedai untuk menemaniku menikmati secawan Kopi Cappuccino yang terbuat dari biji Kopi Sumatera dan scrambled egg yang menjadi menu andalannya. Setelah berbicara cukup lama, akhirnya aku menemukan titik kebenaran atas semua misteri hubungan tak lazim mereka selama ini.

“Stefanie itu penuh kepalsuan Bayu. Dia pintar menjadi aktris. Aku korbannya. Kamu harus mempercayaiku, aku mohon. Dahulu aku seorang wanita normal sampai aku bertemu Stefanie. Aku sering disakiti oleh pacarku (read: pria), dan Stefanie tempat bersandarku. Dia sudah  ku anggap seperti saudaraku sendiri sampai akhirnya dia menggodaku yang membuat aku luluh dan kita menjalin hubungan kekasih selama dua tahun. Aku disekap di kamarnya dan hanya dijadikam pemuas nafsu dirinya. Aku hanya diperbolehkan keluar flat ketika kuliah. Aku mohon tolong aku."jelas Kelsey.
“Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Lalu apa yang terjadi dengan Stefanie? Dia sering menangis. Dia juga menjauhiku."tanyaku.
“Mungkin kamu dianggap berbahaya bagi kami karena kamu sudah mengetahui hubungan kami.”
“Lalu apa yang terjadi saat aku mengunjungi flatnya, kemudian kamu menarik tangannya dan berkata untuk jangan menggangu Stefanie lagi? Aku berpikir di sini Stefanie lah korbannya.”tanyaku.
“Stefanie yang membuat semua sandiwara ini. Jika tidak mau mengikutinya, dia akan menghajarku, lalu menangis sejadi-jadinya. Aku mohon tolong aku. Biarkan aku tinggal di flatmu sampai perpanjangan visa ku terurus kembali, setidaknya sampai studiku selesai akhir tahun ini. Aku ingin pulang ke Amerika."ucap Kelsey dengan nada memohon.

Aku mencari data diri Kelsey di seluruh media sosial di internet karena penasaran. Ternyata tidak sesulit yang ku kira karena Kelsey termasuk wanita yang sering berselancar di internet. Nama aslinya adalah Kelsey Asbille Chow (Chow diambil dari nama ayahnya yang berkewarganegaraan Taiwan). Setelah lulus dari Allen County Scottsville High School di Kentucky, dia melanjutkan pendidikan sarjananya di HTW Berlin. Lalu dia tinggal satu flat dengan Stefanie dan jadilah mereka teman yang akrab. Ternyata memang benar jika Kelsey pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan pria saat masih SMA. Dia tidak seutuhnya menjadi seorang Lesbian. She used to be normal girl. Aku menghubungi semua teman facebook Kelsey yang masih aktif untuk bertanya mengenai identitas Kelsey. Banyak dari mereka berkata bahwa Kelsey adalah salah satu wanita yang populer di sekolahnya. Dia banyak digandrungi pria kerena dia cantik, pintar, ramah, dan periang. Dengan dasar itulah aku menyetujui Kelsey tinggal di flatku untuk sementara. Tapi Stefanie, aku sulit menemukan identitas dirinya di internet. Dia sepertinya orang yang lebih suka menutupi privasi dan hidupnya untuk konsumsi publik di dunia maya.

Aku menunggu Kelsey di depan kampusnya saat jam pulang tiba. Sebelumnya kami sudah membuat perjanjian untuk bertemu dan menjemputnya. Hati nuraniku menuntun untuk mempercayai Kelsey. Dua jam sejak kelas yang diisi oleh Kelsey selesai, namun batang hidung Kelsey tak kunjung muncul jua. Berkali-kali ku hubungi ponselnya namun tidak ada jawaban. Ku hubungi hingga yang ke-12 kalinya, namun ditolak dan dimatikan ponselnya. Aku merasa sesuatu terjadi pada Kelsey. Aku mendatangi flatnya namun tidak ada jawaban. Ku hubungi Stefanie namun nomor ponselnya sudah tidak aktif. Perasaan takut dan khawatir muncul pada diriku. Khawatir jika terjadi sesuatu pada wanita penyuka kopi tersebut. Aku tersadar bahwa aku telah jatuh ke dalam cintanya sejak menikmati kopi bersama tempo hari. Tatapan matanya yang sayu seolah mengisyaratkan kalau dirinya lelah dan butuh sandaran. Aku menunggu balasan dari Kelsey hingga empat hari. Aku tidak tenang apabila harus menunggu selama ini. Aku mendatangi kampusnya dan terkejut bahwa Kelsey tidak mengikuti kuliah sejak empat hari yang lalu. Aku mendatangi kantor polisi dengan melapor bahwa ada wanita muda yang sedang sakit jiwa menyekap seorang Wanita Amerika keturunan Tionghoa di Simon-Boliver Strasse 21 walaupun aku belum memiliki bukti yang cukup kuat. Namun polisi tidak mempercayaiku karena mungkin aku bukan orang pribumi dan banyak laporan palsu yang datang beberapa hari terakhir. Aku tidak menyerah sampai di sini. Aku meminta bantuan Maxi untuk berpura-pura menjadi pengantar pizza di flat tempat tinggal Kelsey dan Stefanie. Aku mengamati dari kejauhan. Ternyata Stefanie merespon Maxi dan menerima pizza yang tertulis dipesan oleh Mrs. Kelsey Asbille. Aku yakin Kelsey ada di dalam flat.

Esok harinya aku membuat rencana untuk menyelinap masuk ke dalam flat yang terdiri dari beberapa kamar itu. Aku menunggu di depan kamar Stefanie dan Kelsey. Saat mengetahui Stefanie yang keluar, dengan sigap aku menarik Stefanie ke dalam tempat yang sepi. Aku mengintimidasinya sampai dia memberitahu keberadaan Kelsey. Stefanie menangis tersendu-sendu. Rasa kasihanku terhadap wanita seolah hilang. Aku terus mengintimidasinya hingga dia mau mengantarku ke dalam kamarnya untuk bertemu dengan Kelsey. Aku terkejut melihat Kelsey diikat seperti binatang. Wanita gila ini mengikat tangan, kaki, dan mulutnya supaya tidak dapat berteriak. Aku juga melihat banyak luka di tubuh Kelsey. Dia menangis ketakutan dan tak kuasa melepaskan diri. Rupanya selama ini Stefanie mengetahui apabila Kelsey meminta bantuan kepadaku, lalu menyekap Kelsey supaya dia tidak dapat bertemu denganku. Aku melepas semua tali yang mengikat tubuh Kelsey, lalu memeluk dan menciumnya. Saat Stefanie ingin melarikan diri, temanku, Maxi berdiri dengan gagah di luar pintu kamar, lalu menangkap Stefanie dan membawanya ke kantor polisi. Hasil pemeriksaan menunjukkan Stefanie memiliki gangguan kejiwaan yang bernama Bipolar Disorder dan Disorientasi Seksual. Pihak berwenang membawanya ke pusat rehabilitas untuk mendapatkan pengobatan. Mereka juga menghubungi keluarganya di Los Angeles untuk penanganan lebih lanjut. Aku membawa Kelsey ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan karena dia mengalami dehidrasi berat dan juga trauma psikis. Aku menemaninya sepanjang malam hingga Kelsey dinyatakan sembuh total. Aku berjanji kepada Kelsey bahwa tidak akan ada seorangpun yang dapat menyakiti dirinya, walaupun seorang wanita sekalipun. Aku tak habis pikir, wanita yang selama ini ku kira sebagai penyembuh hatiku yang gundah ternyata menipuku. Dia tak ubahnya seorang psikopat dengan melakukan penipuan terhadap wanita muda yang menjadi pemuas nafsunya. Dia mendekati pria hanya untuk menutupi kedoknya sebagai seorang penyuka sesama jenis.

*TAMAT*

*Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh dan setting.

Dari kiri atas searah jarum jam: Anton Tanjung sbg Bayu, Stefanie Scott sbg Stefanie, Logan Lermann sbg Maximillian, dan Kelsey Asbille sbg Kelsey Chow

Tuesday, 15 December 2015

CHERNOBYL, AKANKAH MENJADI SETTING THE LAST OF US 2?


December 14, 2015 by Tia Esha Nombiga

"Abandoned Places". Ketika kita mendengar dua kata itu, pasti terbesit kata "menyeramkan" di dalam benak kita. Abandoned place dalam bahasa Indonesia adalah tempat tak berpenghuni yang ditinggalkan oleh penghuninya dikarenakan tempat tersebut sudah tidak layak untuk ditempati. Jika pembaca adalah salah satu gamer, pasti sudah tidak asing dengan game bergenre survival horror berjudul The Last of Us (TLoU). Sejak dirilis eksklusif pertama kali untuk platform Playstation 3 pada tahun 2013, game tersebut langsung dinobatkan menjadi Game of The Year. Dikarenakan konsol era 8 sudah lahir dan banyak user yang mulai menggunakannya, Naughty Dog selaku Developer Game merilis game tersebut ke dalam platform Playstation 4 berjudul The Last of Us: Remastered pada tahun 2014. Saat ini para gamer PC dan Xbox harus gigit jari karena tidak bisa memainkan game tersebut. TLoU memang hanya dirilis untuk konsol Playstation saja. Kembali ke dalam cerita TLoU. Latar game tersebut memang ditempatkan di beberapa kota di Amerika Serikat yang dirancang secara detail menyerupai Abandoned Cities, seperti Boston, Colorado, Texas, Salt Lake City, dan Pittsburgh sesuai dengan genrenya yang ditinggal penghuninya akibat wabah jamur Cordyceps yang membuat penderitanya berubah menjadi zombie. Sebenarnya bukan ditinggal, ada sebagian penghuni yang tidak bisa survive dan akhirnya menjadi mayat hidup karena otak mereka dikendalikan oleh jamur atau wafat ditempat karena bunuh diri atau dibunuh. TLoU bercerita tentang perjalanan hidup seorang pria paruh baya bernama Joel saat bertahan menghadapi wabah Cordyceps.

The Last of Us Cover for Playstation 3


Prolog dimulai ketika wabah pertama kali menjangkit Amerika Serika, saat itu Joel masih muda dan memiliki seorang putri bernama Sarah. Saat Amerika Serikat sudah mulai dilanda kekacauan akibat ledakan infeksi dimana-mana membuat Joel terpaksa membawa putrinya pergi dari rumah bersama dengan adiknya yang bernama Tommy. Saat mengendarai mobil, Joel, Sarah beserta Tommy mengalami kecelakaan akibat banyak manusia berlarian untuk menyelamatkan diri dari Infected (sebutan manusia yang terinfeksi Cordyceps). Kecelakaan membuat kaki Sarah mengalami luka sehingga Joel terpaksa harus menggendongnya. Joel dan Tommy berlari ke sana ke mari dari kejaran Infected dan akhirnya membawa mereka menuju hutan untuk meminta bantuan U.S Military. Tetapi U.S Military tidak percaya bahwa Joel dan Putrinya terbebas dari infeksi sehingga membuat aparat terpaksa menembak keduanya yang membuat Joel kehilangan putrinya.
When Sarah was shot by U.S Millitary
Gameplay sesungguhnya dimulai ketika Joel sudah berusia kurang lebih setengah abad atau lebih tepatnya 20 tahun kemudian sejak kematian Sarah. Selama perjalanan mengililingi beberapa tempat di Amerika Serikat yang sudah menjadi Abandoned Place, Joel bertemu dengan Ellie, seorang gadis kecil berusia 14 tahun yang ternyata immune terhadap gigitan Infected. Awalnya Joel tidak menyadari karena Ia hanya diberi mandat oleh Marlene, teman adiknya, Tommy untuk mengantar Ellie menuju Fireflies di Capitol Building. Ia baru mengetahui ketika U.S Millitary memeriksa bahwa mereka positif terinfeksi atau tidak. Ternyata Ellie sudah digigt oleh Infected sejak 3 minggu yang lalu. Selama perjalanan menuju Fireflies, kita dihadapi oleh beberapa tantangan yang harus kita lewati seperti Runners dan Stalkers (Infected yang masih berwujud manusia), Clickers (Infected yang sudah tidak memiliki otak), Bloaters (Infected berbadan besar dan sangat berbahaya) ataupun manusia barbar yang terpaksa saling membunuh akibat kekacauan untuk merampas makanan dan harta. Dari segi cerita, TLoU memang secara apik menyuguhkan bagaimana drama hubungan antara Joel dan Ellie yang awalnya saling kaku dan acuh karena belum mengenal satu sama lain hingga membuat mereka merasa nyaman sehingga Ellie menganggap Joel seperti ayah kandungnya sendiri. Pada akhir cerita, Joel menyelamatkan Ellie dari niat buruk David, seorang leader dari Canibalistic Group yang sempat menolong Ellie dari kejaran Infected for chopping her body to tiny pieces dan mengatakan "Don't worry, It's me, I'm here, Baby Girl" seperti apa yang dikatakan Joel kepada Sarah pada 20 tahun silam. Menurut saya, pada bagian cerita ini yang paling menyentuh sisi emosional saya.

The Last of Us Gameplay (pic by google)

The Last of Us Gameplay (pic by google)


Ketika kita memainkan TLoU, sebagian gamer pasti langsung teringat dengan peristiwa ledakan nuklir mahadahsyat yang meluluhlantakkan reaktor nuklir di daerah Prypyat, Kota Chernobyl (saat itu masih merupakan bagian dari Uni Soviet) yang membuat Chernobyl menjadi kota mati karena telah ditinggal penghuninya terhitung sejak tanggal 27 April 1986. Chernobyl terletak di timur laut Ukraina, berbatasan dengan Belarusia. Hampir 30 tahun kota tersebut ditinggalkan membuat Chernobyl mengukuhkan dirinya menjadi salah satu Abandoned Places di dunia. Sisa-sisa kehidupan yang sempat ditinggalkan seperti mengajak kita kembali ke tiga dekade silam ketika kita mengunjungi tempat itu kembali, seperti Taman Kanak-kanak yang masih menyisakan buku-buku serta mainan anak-anak yang berserakan ataupun taman bermain yang sudah berkarat akibat dimakan usia. Namun sampai saat ini wisatawan harus mendapatkan pengawalan ketat ketika mengunjungi tempat tersebut karena dikhawatirkan sisa radiasi masih tertinggal. Dalam dunia video game, sebenarnya Kota Chernobyl sudah pernah dijadikan latar untuk game shooter besutan Infinity Ward berjudul Call of Duty 4: Modern Warfare. Namun genre yang diambil bukan seseram tempat yang dijadikan latar melainkan seperti genre COD pada umunya yaitu perang terhadap pemberontak atau teroris seperti kisruh yang terjadi di Timur Tengah saat ini.

Abandoned City of Chernobyl (Left) and Abandoned City of TLoU (Right)
(pic by google, edited by me)
Abandoned Hotel of Chernobyl (Left) and Abandoned Hotel of TLoU (Right)
(pic by google, edited by me)

Jika saat ini Naughty Dog tengah sibuk menggarap story script The Last of Us 2, mungkin Chernobyl bisa dijadikan latar selanjutnya dengan catatan, cerita tidak beruntut dari sequel pertama. Kita ketahui bahwa bahaya nuklir bagi tubuh dapat menjadikan manusia mengalami mutasi genetik seperti kanker, namun manusia memiliki imajinasi di luar batas ketika menciptakan suatu karya seni. Bisa saja akibat radiasi radioaktif, membuat penderitanya mengalami mutasi genetik yang membuatnya berubah menjadi mutan seperti Hulk atau Zombie karena pada dasarnya Developer Game saat mengembangkan sebuah game tidak hanya sebatas menyajikan bagaimana gamer dapat menyelesaikan game tersebut atau seberap sulit game tersebut diselesaikan tapi seberapa epic cerita dari game tersebut sehingga gamer tidak merasa bosan ketika memainkannya. Sepertinya Naughty Dog paham betul apa yang diinginkan para gamer. Disamping grafis yang tidak usah diragukan lagi, Naughty Dog menyeimbangkan antara story scene serta gameplay selama 17 jam permainan sehingga kita bisa merasakan seperti menonton film dan bermain game dalam satu waktu. Namun semua kembali ke Naughty Dog selaku Developer TLoU. Jika para gamer menginginkan TLoU berlanjut dari kisah awal, maka Amerika Serikat tetap menjadi latar utamanya. Kita tunggu TLoU 2 yang akan rilis di konsol era 8 buatan Sony.

Thursday, 10 September 2015

SUSAHAN MANA, MENJADI OWNER ATAU PEGAWAI?

September 09, 2015 by Tia Esha Nombiga


Career Goals

Ngga kerasa udah tujuh bulan lamanya gue mencari uang dengan keringat gue sendiri sebagai pegawai swasta. Biasanya kalo gue mau membeli sesuatu bisa dengan mudah menghabiskannya tanpa mengetahui bagaimana proses uang itu bisa diperoleh. Sekarang semuanya berubah. Rasanya sangat disayangkan menghabiskan uang hanya untuk sesuatu yang menurut gue bukan kebutuhan primer karena gue bisa merasakan bagaimana capeknya mencari uang. Sering terbesit dibenak gue bagaimana enaknya menjadi owner atau pemilik perusahaan. Kerja minim, duit maksimal.

"Ah lama-lama gue buka usaha sendiri deh biar ga capek-capek kerja sama orang lain"

Menurut lo dengan lo menjadi owner, kerjaan lo cuma berpangku tangan terus duit ngalir ke rekening lo gitu aja? Think outside of the box. Menjadi owner itu lebih sulit dari yang dibayangkan. Paling tidak lo harus mahir memanajemenkan diri sendiri, sebelum memanajemenkan usaha lo apalagi anak buah lo. Seorang owner harus mampu melihat peluang pasar yang ada, mampu menentukan segmentasi dan targeting sesuai dengan produk yang bakal lo jual. Well, secara visual memang kelihatannya enak menjadi owner, tetapi secara praktik, gue jamin lo bakal Knock Out di marketingnya.

"Yaudah deh kalo begitu gue jadi pegawai aja! Enak, tinggal nurut aja apa yang disuruh atasan terus dapet duit deh"

Bekerja dengan orang lain juga ngga ada enaknya. Lo harus bangun pagi supaya ga terlambat ke kantor. Lo dilarang pulang sebelum waktunya tiba. Intinya bekerja dengan orang lain harus terikat peraturan yang terkadang ngga sesuai dengan karakter lo. Belum lagi banyak yang mencemooh kalo menjadi pegawai itu seperti kerbau yang dicucuk hidungnya "kayak orang bodoh yang mau saja disuruh-suruh". Terkadang pemikiran seperti itu yang membuat orang tidak akan maju. 

"Being owner nor employee, both of them are difficult. It's the first mindset of me when I was looking for money with myself"

Dibalik kesulitan, pasti ada solusinya. Ada beberapa pendekatan yang akan gue sharing sebagai pegawai. Ketika pertama kali gue memutuskan menjadi pegawai yang artinya gue harus bekerja di bawah aturan orang lain, memang sulit rasanya. Tapi karena tuntunan hidup membuat gue terus berpikir bagaimana gue bisa keluar dari permasalahan ini sehingga semua perkerjaan yang gue lakuin sekarang bukan hanya sebagai rutinitas semata tetapi sebagai ladang pengembangan ilmu yang gue punya. Singkat cerita, gue membuat pendekatan bahwa pegawai dan perusahaan adalah mitra kerja yang saling membutuhkan, sehingga itu ga membuat gue berpikir bahwa gue bekerja sebagai budak. Gue punya bekal berupa keahlian yang gue miliki. Keahlian ini lah yang gue jadikan produk yang bakal gue jual ke perusahaan yang mempekerjakan gue. Lalu perusahaan memiliki uang untuk membeli produk yang gue jual, dimana produk yang gue jual tersebut bakal menjadi aset penting bagi perusahaan. Bukankah itu simbiosis mutualisme? "I'm a Seller, and Company is a Buyer". Sebagai seller yang bermutu, tentunya gue harus memberikan yang terbaik. Oleh karena itu, selama berelasi dengan perusahaan yang mempekerjakan gue, gue selalu melakukan continual improvement terhadap kualitas produk yang gue jual. Karena jika tidak, gue bakal kehilangan perusahaan yang mempekerjakan gue sebagai pelanggan. Analoginya seperti suatu barang yang dijual di pasaran terdiri dari tiga grade, grade A, B, dan C, dimana semakin rendah gradenya, maka harga yang ditawarkan akan semakin rendah juga. Sama halnya dengan pegawai. Itu lah sebabnya jangan berburuk sangka jika perusahaan tidak membayarmu secara adil, itu tandanya produkmu tidak berkualitas. Oleh karena itu instrospeksi diri kita mulai dari sekarang.

"Terkadang bukan apa yang diberikan negara untuk kita tapi apa yang telah kita berikan untuk negara, begitu juga perusahaan tempat kita bekerja"

"Do your best"

Jika kamu tetap merasa perusahaan tidak adil padahal kamu sudah melakukan yang terbaik, pastikan dirimu sudah matang betul untuk memulai hidup baru di tempat baru yang menurutmu lebih menjanjikan. Karena sesuatu yang menjanjikan, tentu membutuhkan timbal balik yang lebih besar juga.

So, dua point yang bisa gue peroleh dari pendekatan yang gue buat ini. "Being an Owner and an Employee at the same time". 

Terus jadinya susahan mana?

"There is no difficult thing if we wanna try it the other way"

Wednesday, 10 December 2014

SEBENARNYA SIAPAKAH MIMIN ITU?

December 14, 2014 by Tia Esha Nombiga


Ilustrasi Mimin si Mr. X

“Siapa sih Mimin itu?”
“Itu lho istilah yang terkenal di twitter atau facebook”
“Ooohh gue kira gebetannya Sule”

Guys, kalian pengguna social media aktif pasti tau istilah yang namanya Mimin? Yap betul… Mimin itu adalah sebutan pengguna ID yang menjalankan akun non pribadi, seperti akun untuk produk tertentu, perusahaan tertentu, info tertentu, dll. Kalau kalian masih bingung, Mimin itu adalah plesetan yang dibuat Netizen dari kata “Admin”. Tapi walaupun kalian tau Mimin itu apa, pasti ketika kalian ditanya “Kalian tau gak sih siapa sebenarnya yang jadi Mimin itu?”. 98% orang menjawab “Tidak Tahu”. Sengaja gue sisain 2% karena 1% pasti keluarga/teman Mimin dan 1% nya lagi ya Mimin itu sendiri.

Dulu waktu gue masih bekerja di FBI dan menjabat sebagai Ketua Badan Intel Cyber Crime, gue sering mendapat project buat mengungkap siapakah Mimin itu. Karir gue di FBI hancur seketika, bukan karena gue gak bisa mengungkap siapakah Mimin itu, tapi semenjak gue berhasil mengungkap Mimin dibalik salah satu akun bot itu ternyata teman gue sendiri, gue pun malu dan akhirnya gue mengeluarkan diri dari FBI sebelum FBI yang mengeluarkan gue. HAHAHA boong deh ini cuma becandaan…

Apa perlu kita menyewa jasa CIA, SWAT, FBI, dan FPI buat mengungkap siapakah Mimin itu? Tapi agak lebay sih kecuali kalau Mimin itu hobinya membuat resah warga Netizen seperti yang terjadi akhir-akhir ini, yang mana Cyber Crime Cops Indonesia telah berhasil mengungkap siapa dalang alias Mimin yang menjalankan sebuah akun anti-pemerintahan dengan ID @TrioMacan2000. Akun tersebut dinilai telah melewati batas penggunaan sosial media yang sewajarnya dengan memposting tulisan yang bertujuan mendiskreditkan orang-orang tertentu. Lebih dari itu, baru-baru ini akun tersebut dilaporkan telah memeras beberapa orang tertentu untuk kepentingan pribadi. Ada sebanyak 7 oknum pemeran Mimin di akun @TrioMacan2000 yang telah tertangkap. Yaa semoga si ketujuh Mimin @TrioMacan2000 ini jera dan semoga si 7 Manusia Harimau gak lupa untuk menjenguk mereka di hotel prodi EHEHEHE xD #apansih #krik #krik

Sebenarnya gak begitu penting sih bahwa kita harus tau Mimin itu siapa tapi kalau si Mimin ini udah ngerugiin orang tertentu, maka gue sebagai mantan Ketua Badan Intel Cyber Crime FBI gak bisa tinggal diam. Terkadang gue merasa terusik sama Mimin akun bola yang hobinya nyepikin cewek di media sosial, bukan malah ngeposting berita terbaru seputar bola dan Mimin akun ilmu pengetahuan yang hobinya me-retweet akun ramalan bintang atau akun iklan obat diet yang menurut gue sangat tidak nyambung. Bawaannya pengen ngegantiin posisi si Mimin. Tapi apa daya, gue gak punya otoritas untuk mengungkap siapa si Mimin itu sebenarnya. Biarlah Tuhan yang menyadarkan Mimin bahwa tindakan itu sangat tidak terpuji dan mengganggu ketentraman masyarakat, baik masyarakat dunia maya maupun dunia ahmad nyata.

Tuesday, 18 November 2014

APA ITU MIMPI?

November 17, 2014 by Tia Esha Nombiga

Mimpi? Apa itu mimpi? Orang bilang mimpi itu adalah bunga tidur. Menurut definisi gue, mimpi adalah hasil dari pemikiran kita yang dilakukan secara terus-menerus dan biasanya merupakan beban pikiran dimana hasil dari pemikiran tersebut akan divisualisasikan saat tidur, entah pada hari itu atau esoknya. Terkadang gue selalu berpikir buat apa hanya bermimpi kalau pada akhirnya itu gak bisa menjadi kenyataan. Saat kita bermimpi indah lalu terjaga dari tidur, kita merasa sudah diberi harapan kosong oleh mimpi tersebut. Saat kita bermimpi buruk lalu terjaga dari tidur, kita merasakan ketakutan yang luar biasa seakan-akan nyata dan mengalaminya. Intinya mimpi itu gak enak, dulu gue berpikir begitu. Tapi semua pemikiran gue berubah sejak salah satu dari mimpi gue (mimpi saat tidur) jadi kenyataan yang sampai sekarang gak pernah gue sangka karena masih terjadi sampai sekarang. Gue bersyukur banget akan hal itu.


Gue mengubah pola pikir bahwa kita semua butuh mimpi. Kita gak akan pernah memiliki cita-cita apalagi menggapainya tanpa memiliki mimpi. Kita gak akan tau mau jadi apa tanpa memiliki mimpi. Seseorang yang gak pernah mengerti arti hidup adalah orang yang gak punya mimpi. Banyak dari mereka menertawakan orang yang kerjaannya cuma mimpi, mimpi, dan mimpi...

"Mimpi lo ketinggian, udah jatuh mah sakit."

"Apa? Itu mimpi lo? Gak salah? Gak mungkiiiiin"

Kalimat-kalimat semacam itu sering kita dengar. Terkadang gue tertawa kecil mendengar orang yang berkata seperti itu. Betapa sedih hidupnya. Orang seperti itu biasanya menganggap dirinya memiliki kelebihan karena bagi mereka, tanpa bermimpi, mereka yakin bisa menggapainya. Aku sering bertanya "Tanpa bermimpi mereka bisa menggapainya? Lantas apa yang akan mereka gapai? Sedangkan mereka tak punya mimpi?"

Friday, 7 November 2014

KITA "KISAH NYATA": SOPHIE SCHOLL, POTRET MAHASISWI JERMAN ANTI-NAZI

November 06, 2014 by Tia Esha Nombiga


Dari kiri ke kanan: Sophie Scholl, Hans Scholl, dan Christoph Probst
NAZI menancapkan kekuasaannya di tanah Eropa, terutama Eropa Barat dan sekitarnya selama 12 tahun, terhitung dari tahun 1933 sampai 1945. Selama itu pula, NAZI telah meninggalkan banyak luka mendalam, baik bagi korban maupun rakyat Jerman yang secara langsung menyaksikan kekejaman NAZI. Kita ketahui bahwa NAZI adalah sebuah partai politik anti-semit yang dipimpin oleh Adolf Hitler, seorang diktator berkewarganegaraan Austria yang bertanggung jawab atas kematian puluhan juta umat manusia di tanah Eropa. Perlu Anda ketahui, korban Hitler tidak hanya sebatas kaum Yahudi saja, tetapi kaum yang dianggap tidak berguna untuk hidup di dunia seperti homoseksual dan cacat fisik ataupun mental. Hitler hanya menginginkan Jerman dihuni oleh bangsa murni Jerman yaitu bangsa Arya sehingga kelak diperoleh keturunan yang paling baik tanpa adanya campuran ras dari bangsa lain. Tindakan Hitler ini konon terinspirasi dari teori Charles Darwin, dimana ras yang merugikan dihilangkan sedangkan ras yang menguntungkan tetap dipertahankan agar diperoleh keturunan yang terbaik (Sumber: National Geographic Indonesia). Tindakan yang dilakukan oleh Hitler ini dianggap tidak berprikemanusiaan oleh sebagian rakyat Jerman, termasuk seorang mahasiswa Universitas Munich yang bernama Sophie Scholl.

Gadis itu bernama lengkap Sophie Magdalena Scholl, seorang mahasiswa berkebangsaan Jerman yang lahir pada tanggal 09 Mei 1921 dan wafat pada tanggal 22 Februari 1942 ketika dia berumur 21 tahun. Sophie Scholl tercatat sebagai mahasiswa jurusan biologi dan filsafat di Universitas Munich pada bulan Mei 1942. Sophie Scholl adalah seorang mahasiswa kebanyakan yang memiliki pemikiran kritis, dimana dia sangat menentang pemerintahan pada saat itu yang menurut dirinya tidak sesuai dengan Hak Asasi Manusia sehingga menjadikan dia seorang aktivis anti-NAZI. Pada saat itu, Jerman sedang dipimpin oleh Hitler yang menjabat sebagai Kanselir (read: kepala pemerintahan Jerman/setingkat dengan perdana menteri apabila di negara monarki), sekaligus Fuehrer (read: gelar militer atau merujuk kepada pemimpin tertinggi di Jerman). Mendengar Jerman mengalami kekalahan di Front Timur, Sophie Scholl bersama dengan kakak laki-lakinya yaitu Hans Scholl segera membuat sebuah seruan untuk menghentikan dan menentang pergerakan NAZI melalui selebaran secara sembunyi-sembunyi. Hans Scholl yang juga mahasiswa Universitas Munich jurusan kedokteran ikut membantu Sophie dalam menyebarkan selebaran anti-NAZI. Selebaran itu disebarkan kepada seluruh mahasiswa Universitas Munich pada saat jam kelas sedang berlangsung karena dikhawatirkan kegiatan mereka akan diketahui oleh pihak kampus. Mereka tidak bekerja sendiri karena Sophie dan Hans tergabung dalam sebuah organisasi yang diberi nama Mawar Putih (Weisse Rose) yang terdiri dari mahasiswa anti-NAZI pada awal musim panas tahun 1942. Weisse Rose itu sendiri adalah sebuah organisasi anti-NAZI yang berisi orang-orang terpelajar.
The White Rose Group
Namun malangnya, beberapa hari sejak disebarkan selebaran itu, Sophie melemparkan satu set selebaran dari atas gedung dan terlihat oleh Janitor (pegawai kebersihan). Kemudian Janitor mengadukan hal tersebut kepada Gestapo (Kepolisian NAZI) dan tanpa waktu panjang, keduanya ditangkap. Sophie dan Hans ditangkap bersama dengan rekannya yang bernama Christoph Probst pada tanggal 18 Februari 1943. Kemudian Sophie, Hans, dan Christoph diinterogasi oleh seorang interrogator handal yang bernama Robert Mohr. Awalnya mereka mengelak jika mereka melakukan hal tersebut tetapi karena kehandalan Robert Mohr dalam mengulik fakta demi fakta yang menyudutkan ketiganya, maka pada akhirnya Sophie mengaku kalau mereka adalah aktivis anti-NAZI. Robert Mohr tidak melakukan intimidasi fisik (read: penyiksaan) ketika menginterogasi ketiganya, melainkan dengan perang kata-kata yang membuat ketiganya tanpa sengaja berbicara mengenai fakta yang pada akhirnya menjatuhkan mereka. Empat hari kemudian, yaitu pada tanggal 22 Februari 1943, mereka dibawa ke pengadilan rakyat (Volksgerischtshof) dan diadili oleh seorang hakim yang bernama Roland Friesler yang sengaja didatangkan dari Berlin. Roland Friesler terkenal dengan sikapnya yang berlebihan ketika mengadili seorang tersangka sehingga membuat ketiganya dituntut hukuman mati. Ketika masing-masing dari mereka diminta memberi pembelaan terakhir, Christoph Probst meminta agar dia diampuni karena dia memiliki tiga orang anak. Sophie dan Hans yang mendengar permintaan Christoph menyetujui permintaanya agar dia diampuni dan hakim hanya mengadili mereka berdua saja. Namun keputusan tetaplah keputusan, ketiganya tetap diadili hukuman mati oleh eksekutor Johann Reichhart dengan cara dipancung menggunakan Guillotine di Munich's Stadelheim Prison pada pukul 17.00.

Kisah perjuangan Sophie Scholl dan Hans Scholl diangkat dalam sebuah layar lebar di Jerman pada tahun 2005 berjudul Sophie Scholl: Die Letzten Tage. Film tersebut diperankan oleh aktris Jerman bernama Julia Jentsch yang berperan sebagai Sophie. Julia Jentsch berhasil memerankan Sophie Scholl dengan penuh penghayatan yang membuat penonton ikut larut dalam ketegangannya. Pembuatan film Sophie Scholl ini mengingatkan kita akan perjuangan seorang mahasiswa yang menginginkan keadilan di negerinya sendiri, dimana rakyat Jerman kebanyakan tidak berani menentang pemerintahan yang tidak berprikemanusiaan pada saat itu. Sophie Scholl sendiri bukanlah seorang Yahudi, apalagi cacat mental atau fisik, dia adalah seorang warga negara asli Jerman beragama Kristen tetapi karena dia seorang aktivis anti-NAZI, maka dengan terpaksa, NAZI menangkap dan membunuhnya.