Friday, 24 November 2017

PENGALAMAN PERTAMA BACKPACKING KE BANGKOK (4 HARI 3 MALAM)

November 24, 2017 by Tia Esha Nombiga

Thanon Na Phra Lan Road, Bangkok
Siang itu tanggal 05 September 2016, aku mendapatkan panggilan masuk dari Nurul, teman seangkatanku semasa kuliah dulu. Alasan dia meneleponku siang itu untuk menawari ajakan backpacking ke luar negeri pada awal tahun depan. Aku yang mulai tertarik dengan dunia travelling langsung mengiyakan ajakan Nurul. Kami terlibat perbincangan yang cukup lama untuk memilih tujuan negara yang cocok. Dari tiga negara yang masuk dalam daftar rencana tujuan, yaitu Macau, Vietnam dan Thailand, maka dipilihlah Thailand dengan berbagai alasan. Di samping banyak penyedia tiket pesawat promo yang bersliweran, biaya hidup di Thailand masih terbilang murah dan informasi mengenai Thailand mulai dari pergi sampai pulang mudah ditemui di Internet. Selain aku dan Nurul, kami mengajak 2 orang teman kami lainnya, dan kalian tahu? Ini pengalaman pertama kami pergi keluar negeri tanpa travel agency dan keluarga. Setelah semua setuju, kami memilih tanggal keberangkatan yang sesuai dengan tanggal dengan tarif terendah dari salah satu maskapai Low-Cost Airline di Indonesia, maka dipilihlah tanggal 05 Maret 2017. Harga tiket Round Way yang kami peroleh sebesar Rp 1.318.000 tersebut terbilang sangat murah untuk tujuan Jakarta – Bangkok. Terimakasih Nurul yang sudah membantu kami mencarikan tiket semurah itu HEHEHE

DAY 1 (05 MARET 2017) : PASAR CHATUCHAK

Cuaca pagi yang cerah seperti memberi tanda sinyal bahwa penerbangan kami yang dijadwalkan pukul 14.00 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Don Mueang Bangkok akan berjalan dengan mulus tanpa guncangan. Betul sekali. Perjalanan kami selama 3 jam sangat minim turbulensi. Tidak ada perbedaan waktu antara Kota Jakarta dengan Bangkok sehingga kami tiba di Kedatangan Terminal 1 Bandara Don Mueang Bangkok tepat pukul 17.00 waktu setempat. Saat melewati pintu pemeriksaan imigrasi, kami hampir tidak menemui kesulitan sama sekali. Berbeda dengan Singapura yang kerap melakukan random checking pada turis asing yang hendak memasuki negara Singapura. Setelah berhasil melewati pintu imigrasi, kami mencari outlet penjual kartu SIM lokal agar dapat menikmati fasilitas internet tanpa roaming yang terletak di depan Exit Gate. Tujuan utama membeli kartu SIM lokal agar dapat membuka google maps karena kami sadar baru pertama kali menginjakkan kaki di Bangkok. Waktu itu kalau tidak salah harganya sebesar 296 THB (Rp 120.000) untuk data sebanyak 2 GB. Cukup mahal memang karena dijual di bandara. Keluar dari Exit Gate Kedatangan Terminal 1, kami disambut oleh jejeran bus berukuran seperempat bertuliskan A1 yang dikhususkan sebagai armada antar jemput bandara. Perjalanan kami selanjutnya yaitu menuju BTS N8 Mo Chit (BTS “Bangkok Train Station” adalah sebutan untuk perberhentian moda transportasi kereta di Bangkok yang terletak di atas jembatan layang atau sky train) dengan lama perjalanan kurang lebih 20 menit. BTS Mo Chit terletak tidak jauh dari pasar yang sangat terkenal di Bangkok bernama Pasar Chatuchak. Berhubung masih berada pada satu area, kami mampir sebentar ke Pasar Chatuchak walaupun dalam keadaan menenteng koper. Pasar Chatuchak ini masih ramai pengunjung walaupun hari sudah malam. Pengunjung didominasi kalangan muda, baik turis asing maupun warga lokal. Ada hal menarik yang kami temui saat menyusuri Pasar Chatuchak, yaitu pedagang wanita Thailand yang fasih berbahasa Indonesia. Saat kami tanya, beliau belum pernah berkunjung ke Indonesia, karena terlalu banyak turis asal Indonesia maka beliau mempelajari bahasa Indonesia secara autodidaktik. Cukup menarik. Kami memborong dagangannya yaitu manisan mangga/pack seharga 150 THB (Rp 61.000) dan Nestea Thai Milk Tea 15 sachet/pack seharga 120 THB (Rp 48.600) dengan bonus masing-masing 1 bungkus keripik pisang.
BTS Sky Train Map (photo by asiantraveltips)
BTS Sky Train Ticket Machine (photo by asiantraveltips)
FYI panduan menggunakan BTS Sky Train dengan mesin tiket mandiri yaitu:
1. Sentuh stasiun yang ingin dituju pada layar map, misalnya Saphan Taksin
2. Masukkan koin atau uang kertas sesuai dengan tarif yang tertera di tiap stasiun tujuan yang berada di dalam lingkaran (tidak selalu uang pas, mesin akan mengembalikan uang Anda)
3. Ambil tiket yang keluar, selesai
Single Journey Ticket BTS

Suasana di dalam BTS Siam - Saphan Taksin
Setelah dirasa cukup puas menyusuri Pasar Chatuchak dan badan mulai lelah, kami bergegas kembali menuju penginapan di daerah Bang Rak bernama Glur Bangkok Hostel and Coffee Bar. Untuk menuju Glur Bangkok Hostel, kami menaiki kereta dari BTS N8 Mo Chit, lalu transit terlebih dahulu di BTS Siam untuk sampai ke BTS terdekat yaitu BTS S6 Saphan Taksin. Lokasi Glur Bangkok Hostel ini sangat terjangkau karena terletak hanya beberapa meter dari Sathorn Pier dan BTS Saphan Taksin. Tarif per malam Glur Bangkok Hostel ini memang ditujukan untuk backpacker, yaitu hanya sebesar Rp 70.000 untuk kamar mix dorm dengan jumlah 8 bunk beds per room (harga merupakan penawaran saat promo, jika harga normal, kurang lebih Rp. 120.000). Harga terbilang murah karena sudah termasuk sarapan, makan sereal, dan minum susu kotak atau kopi sepuasnya yang dapat diambil di cozy room. Kalap dong kita, tiap malam ngobrol di cozy room sampai jam 01:00 cuma buat ngabisin sereal dan susu HEHEHE... Pelanggan Glur Bangkok Hostel ini didominasi turis asal Eropa/Amerika. Pegawainya pun cukup ramah dan fasih berbahasa Inggris. Selain itu, di depan hostel terdapat tempat makan yang bernama Bangrak Bazzar yang dapat dijadikan alternatif pengganti makanan di hostel yang cukup mahal bagi backpacker.
Glur Bangkok Hostel dari dalam

Glur Bangkok Hostel dari luar
Glur Bangkok Hostel and Coffee Bar
(45 Charoen Krung 50 Alley, Khwaeng Bang Rak,
Khet Bang Rak, Krung Thep Maha Nakhon 10500, Thailand)

DAY 2 (06 MARET 2017): GRAND PALACE - WAT PHO - ASIATIQUE THE RIVERFRONT

Itinerary hari kedua mengajak kami menuju The Grand Palace dan Wat Pho dengan menggunakan moda transportasi kapal yang berlayar dari Sathorn Pier dan berlabuh di Tha Chang Pier. Sungai Chao Phraya membelah Kota Bangkok sehingga kapal menjadi transportasi alternatif untuk mempersingkat perjalanan. Ada banyak jenis kapal yang mengangkut penumpang ke beberapa tempat di Bangkok. Kapal tersebut dibedakan menjadi dua yaitu Chao Phraya Tourist Boat dan Chao Phraya Express Boat. Chao Phraya Tourist Boat ini memang dikhususkan untuk turis yang ingin menyusuri sungai Chao Phraya sejauh 21 KM dengan model hop on-hop off seperti bus tour tanpa atap di Jakarta sedangkan Chao Phraya Express Boat dikhususkan untuk umum. Kami memilih Chao Phraya Express Boat karena harga lebih murah dan memang tujuan kami hanya satu tempat. Jenis kapal ini dibedakan lagi berdasarkan warna bendera. Untuk menuju The Grand Palace dan Wat Pho, kami menggunakan kapal berbendera oranye dengan tarif 17 THB (Rp 7000) yang akan ditagihkan di atas kapal. Pagi itu kapal sangat penuh sesak didominasi oleh turis asal Korea dan  Bule Eropa/Amerika.
Sathorn Pier
Sungai Chao Phraya dari Chao Phraya Express Boat
Setibanya di N9 Tha Chang Pier, kami berjalan tidak jauh menuju persimpangan jalan sekitar The Grand Palace. Dari persimpangan sudah terlihat megahnya jejeran kuil di The Grand Palace. The Grand Palace merupakan kediaman resmi keluarga kerajaan Thailand sekaligus kantor pemerintahan yang dibangun sejak tahun 1782 setelah Raja Rama I naik takhta. Namun sejak pemerintahan Raja Rama V, The Grand Palace tidak lagi dijadikan sebagai kediaman resmi keluarga kerajaan, namun hanya digunakan saat diadakan upacara keagaaman saja. The Grand Palace dibangun dengan gaya arsitektur neo-baroque seperti istana kerajaan di Eropa namun tetap tidak mengesampingkan khas negaranya. Tarif untuk memasuki The Grand Palace sebesar 500 THB (Rp 202.500). Tarif tersebut sudah termasuk memasuki area Wat Phra Kaew yang merupakan area paling suci karena terdapat patung Emerald Buddha setinggi 66 centimeter. Sinar matahari pada saat itu sangat terik karena Bangkok sedang memasuki musim panas sehingga membuat kami mudah mengalami lelah. Apalagi area The Grand Palace ini sangat luas dan butuh waktu seharian untuk menelusuri semua area sampai tuntas. Untuk memasuki The Grand Palace, kita dilarang keras menggunakan ripped jeans dan hot pants. Jika telanjur memakai celana tersebut, pengelola The Grand Palace akan menyewakan kain penutup seperti di Bali dengan membayar biaya tambahan.

Wat Phra Kaew "The Temple of the Emerald Buddha"
The Grand Palace dari depan
Phra Mondop
Chakri Maha Prasat Hall "The Royal Residence"
The Demon Guardians
Kami diajak groufie oleh Ahjumma :D
Rencana kami selanjutnya yaitu Wat Pho yang berjarak tidak jauh dari The Grand Palace sehingga dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Sebelum menuju The Grand Palace, aku membeli konsentrat mangga seharga 25 THB (Rp 10.000) dan potongan buah mangga seharga 30 THB (Rp 12.200) untuk menghilangkan dahaga. Wat Pho ini merupakan lokasi dimana The Reclining Buddha atau sebutan yang sering kita dengar Patung Buddha Tidur berada. Tarif tiket masuk Wat Pho sebesar 100 THB (Rp 40.500) sudah termasuk sebotol air minum yang dapat ditukarkan di pintu masuk. Wat Pho ini memang tidak seluas The Grand Palace namun keindahan kuil Buddhist ini tidak diragukan juga. Di Wat Pho ini memang lebih banyak disuguhi patung Buddha berlapis emas daripada bangunan megahnya. The Reclining Buddha atau Phra Buddha Saiyas atau Patung Buddha Tidur memiliki panjang 46 meter dan tinggi 15 meter dengan berlapis emas 18 karat. Patung Buddha Tidur ini menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di dunia. Sebelum memasuki area tempat Patung Buddha Tidur berada, kami diwajibkan untuk melepas alas kaki. Sangat sulit mengabadikan foto di depan patung karena banyaknya turis yang berlalu lalang dan berhenti untuk berswafoto juga. Selain Patung Buddha Tidur, ada banyak patung Buddha emas lainnya dengan gaya yang berbeda. Ada yang bermeditasi ataupun duduk di atas batu.
Tiket masuk Wat Pho
Phra Buddha Saiyas "The Reclining Buddha"
The Colonnades
Phra Buddha Chinnasari
Phra Maha Chedi Sri Rajakarn "The Great Pagodas of Four King"
Jajanan kaki lima sekitar Wat Pho
Kami kembali ke Tha Chang Pier dengan menggunakan jasa transportasi Tuk Tuk. Tuk Tuk merupakan moda transportasi darat khas Thailand seperti oplet yang paling mendunia. Mumpung sedang berada di Thailand, kami mencoba transportasi tersebut, di samping itu badan sudah mulai terasa lelah jika harus berjalan kaki. Untuk dapat menaiki Tuk Tuk, kita perlu pintar-pintar menawar karena jika tidak, supir akan memberikan harga tinggi. Saat itu kami dikenai tarif sebesar 75 THB (Rp 30.000) setelah bersusah payah menawar.

Selanjutnya tujuan kami adalah Asiatique The Riverfront yang memang hanya dibuka pada malam hari. Untuk menuju Asiatique The Riverfront, kita bisa menggunakan jasa angkutan shuttle boat gratis yang hanya beroperasi dari pukul 16:00 – 00:30 dari Sathorn Pier. Saat itu kami berangkat pukul 19:00. Antrian pun tidak terlalu mengular karena mungkin pengunjung sudah berangkat sedari pukul 16:00. Selama menyusuri sungai Chao Phraya pada malam hari, kami disuguhi pemandangan lampu-lampu dari Asiatique dan Mekong Ferris Wheel. Di Asiatique ini terdapat restoran, pertunjukan musik, dan pusat oleh-oleh yang didesain sangat megah seperti Gading Walk di Jakarta. Walaupun terlihat megah dan mahal, ternyata barang yang dijajakan terbilang cukup murah. Aku membeli oleh-oleh pakaian untuk keponakan yang berumur 4,5 dan 1,5 tahun dengan harga rata-rata 74 THB (Rp 30.000) pada pedagang yang berasal dari Sri Lanka. Aku mengobrol banyak dengan pedagang ini karena sangat ramah, sampai menanyakan dimana asalku dan sudah pernah pergi ke Bali HEHEHE Indonesia selalu saja dikenal dengan Bali. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 23:00, yang mana sebentar lagi jam operasional shuttle boat gratis akan berakhir. Kami bergegas mengantre kapal untuk kembali menuju penginapan.
Gemerlap malam dari atas shuttle boat

Suasana di shuttle boat
Asiatique the Riverfront

DAY 3 (07 MARET 2017): MBK CENTER - SIAM PARAGON - BANGKOK ART & CULTURE CENTER - KHAOSAN ROAD

Hari ketiga selama di Bangkok memang kami khususkan untuk mencari oleh-oleh. Kami memilih kawasan Siam setelah mencari beberapa informasi dari blog traveller yang mengatakan bahwa ada sebuah mall yang dihuni ribuan tenant yang menjual berbagai aksesoris, pakaian, makanan dan minuman khas Bangkok dengan harga yang lebih murah. Nama mall tersebut adalah MBK Center (Ma Boon Khrong Center). Jika dilihat dari luar, mall tampak megah, tidak kalah megah dengan pesaingnya yaitu Siam Paragon namun ketika sudah berada di dalam, suasana mall tak jauh berbeda dengan ITC seperti di Jakarta. Di MBK Center, kami menemukan minuman Nestea Thai Milk Tea yang berharga lebih murah dari harga Nestea yang kami beli di Pasar Chatuchak dan Asiatique. Tanpa pikir panjang, aku memborong minuman Nestea yang memang cukup terkenal di Bangkok sebanyak mungkin (kalau beli melalui e-commerce akan lebih mahal). Fyi harga Nestea 15 sachet/pack di Pasar Chatuchak sebesar 120 THB (Rp 48.600) sedangkan di MBK Center hanya sebesar 95 THB (Rp 38.500). Transportasi menuju MBK Center ini sangat mudah karena terletak tidak jauh dari BTS W1 National Stadium. Hanya berjalan kaki beberapa meter melalui sky walk, kalian akan tiba di antara dua mall yaitu Siam Paragon dan MBK Center.
MBK Center dari sky walk
Setelah hampir setengah hari menyusuri MBK Center, perut kami mulai terasa lapar. Kami menemukan food court yang cukup nyaman dengan pilihan makanan dan minuman yang bervariasi di area luar MBK Center. Kami membeli Pad Thai seharga 37 THB (Rp 15.000), Mango Sticky Rice seharga 100 THB (Rp 40.500), Coconut Ice Cream seharga 25 THB (Rp 10.000), dan konsentrat mangga seharga 25 THB (Rp. 10.000). Selanjutnya perjalanan kami adalah menuju Siam Paragon hanya sekedar melihat-lihat suasana karena harga barang yang dijual tidak sesuai dengan kantung backpacker. Mall bernama Siam Paragon ini memang ditargetkan untuk kalangan menengah ke atas dengan menjual barang-barang brand terkenal. Dari Siam Paragon ini kita akan terhubung ke Siam Discovery dimana Madame Tussauds Bangkok berada. Kami memang tidak masuk ke dalam Madame Tussauds, cukup selfie gratis dengan patung lilin Om George Clooney di depan HEHEHE. . .
Coconut Ice Cream, Mango Sticky Rice, dan Pad Thai
Madame Tussauds Bangkok dari luar
Berpose dengan Om George Clooney
Sebenarnya Bangkok Art & Culture Center tidak masuk ke dalam itinerary, karena kami menemukan tempat ini secara tidak sengaja. Berhubung sepertinya ini adalah tempat yang sangat menarik, maka kami menyempatkan untuk masuk sebelum melanjutkan perjalanan. Bangkok Art & Culture Center ini menampilkan lukisan-lukisan hasil karya seniman, baik lokal maupun luar (dapat dilihat dari nama di tiap lukisan yang dipajang).
Bangkok Art & Culture Center

Salah satu spot di Bangkok Art & Culture Center
List terakhir hari ketiga, kami akan menghabiskan malam di Khaosan Road, jalan paling terkenal di Bangkok. Katanya Khaosan Road ini semakin malam semakin ramai. Karena belum paham rute menuju Khaosan Road, kami kembali menggunakan jasa Tuk Tuk karena kami pikir kapan lagi akan naik Tuk Tuk. Seperti biasa, kami harus bekerja ekstra untuk menawar tarif Tuk Tuk dengan gaya emak-emak Tanah Abang (kalau kemahalan, pura-pura jual mahal dan gak butuh HEHEHE...). Khaosan Road ini tidak jauh berbeda dengan Jalan Malioboro di Jogja. Banyak pedagang kaki lima yang menjual pakaian dan makanan di pinggir jalan. Selain itu kita juga dapat menemukan restoran dan bar di sini yang lebih banyak dikunjungi bule-bule. Selama dua hari di Bangkok, kami belum menemukan makanan tak lazim, baru saat berada di Khaosan Road akhirnya kami menemukan penjual serangga oseng. Hiiiiii membayangkannya saja sudah jijik, apalagi tarantula dan kalajengking. Karena makanan tak lazim ini sangat terkenal dan banyak pelancong yang memotret tetapi tidak membeli, pedagang memberikan tarif 10 THB (Rp 4050) apabila ingin mengambil foto. Temanku bernama Dina sempat memotret secara diam-diam dan inilah hasilnya HEHEHE...
Serangga oseng

Khaosan Road
Muay Thai di Khaosan Road

DAY 4 (08 MARET 2017) : ROBINSON DEPARTEMENT STORE - JAKARTA

Hari keempat atau hari terakhir kami gunakan untuk berjalan-jalan sekitar hostel saja karena sembari menunggu jadwal penerbangan menuju Jakarta pada pukul 15:30. Karena waktu check out hostel pukul 12:00, kami meminta staff hostel untuk melakukan check out lebih awal supaya tidak terburu-buru saat kembali. Staff hostel mengijinkan kami untuk menyimpan koper di cozy room sampai pukul 14:00. Di daerah Bang Rak ini terdapat mall yang tidak terlalu besar bernama Robinson Departement Store. Ternyata di sini kami menemukan Nestea Thai Milk Tea yang dijual lebih murah 10 THB dari harga di MBK Center. HAHAHA jauh-jauh mencari di tiga tempat berbeda karena khawatir tidak kebagian, ternyata di dekat hostel ada yang menjual lebih banyak dan murah. Oh My God Nestea kamu membuatku fyuh... Kami memanfaatkan sisa uang saku untuk membeli oleh-oleh snack dan kue.
Kue yang dibeli di Robinson Bangrak
Jam 14:00 tiba, saatnya kami siap-siap menuju bandara untuk terbang kembali ke Jakarta. Terimakasih Bangkok untuk pengalaman menyenangkan selama 4 hari, dan terkhusus untuk Nurul, Dita, dan Dina yang udah membuat impian ini menjadi nyata dan berjalan lancar. Insha Allah tahun depan akan ada cerita baru lagi.

Mau intermezzo dikit, bahasanya sante ae yaa biar keliatan lucunya, jadi selama 4 hari di Bangkok, banyak banget cerita lucu tapi bikin degdegan kejadian, mulai dari
GUE: Kehilangan kartu kamar. Jadi malam kedua, kami sempat ngobrol sama koko dari Hongkong yang namanya Woody sampai tengah malam di cozy room. Yang gue ingat, gue kebagian megang kartu kamar dan di meja banyak snack-snack berserakan. Gue sekamar btw sama Nurul. Aduh penyakit pikun gue kumat. Kartu kamar gue hilang, Ya Tuhan. Udah panik aja. Sampe-sampe gue nyamperin Woody ke kamarnya 2 lantai ke atas dari cozy room dan nuduh dia ketuker kartunya, padahal doi lg indehoy asoy sama temen ceweknya OMG gadeng becanda. Pas gue lihat, ternyata nomor kamarnya beda. Malu sih udah nuduh huh. Gue turun lagi ke cozy room, dan Nurul menemukan kartu ada di tong sampah (gak tau sih apa yang ada dipikiran Nurul sampe sampah aja dikorek-korek tapi berkatnya kartu ketemu uhuuyyy). Ehiya deng kan kita habis bala, jadi yaa buang sampah di tong dong. Tong sampah bayangin... Kartu penting dibuang di tong sampah anjay. Buang tuh masa lalu, biar ga baper melulu, eiiitss. Pikuner detected.
NURUL: Kehilangan Embarkation Card. Waktu udah ngantre di pengecekan imigrasi, kami sengaja ngantre beda barisan biar cepet. Tiba-tiba Nurul jongkok kayak nyari-nyari sesuatu,  kebelet berak kaliya, kami semua nyamperin dong. Ternyata Embarkation Cardnya hilang. Udah panik karena takut gak bisa terbang. Nurul sempet minta lagi ke petugas yang jaga di situ, ternyata boleh Alhamdulillah ga jadi kehilangan Rp 1.000.000 - 2.000.000 deh kalau beli tiket pesawat lagi wekaweka cekaceka. Ternyata 3 hari kemudian Nurul cerita kalau kartunya masih di amplop. Yaa Amplop... Pikuner detected.
DINA: Kehilangan duit. Nah ini nih yang paling kocag. Jadi gue abis gantiin duit Dina 500 THB, waktu patungan buat bayar ini itu. Nah ceritanya sebelum berangkat kita foto-foto dulu di depan hostel sebelum jalan-jalan ke Robinson. Nah si Dina tuh nenteng-nenteng duitnya, bukan malah dimasukkin tas. Nah sampe di Robinson, si Dina ngorek-ngorek tasnya karena ngerasa si duit hilang ntah kemana. Kita balik lagi dong ke hostel, udah gak ada (ya iyalah, duit 500 THB / Rp 200.000 pada saat itu jatuh terus gak ada yang ngambil, itu sungguh mulia sifatnya). Kami selidiki kemana duit itu pergi, ternyata di foto masih ada, padahal jarak antara foto dan jalan keluar tuh cuma beberapa menit aja. Pikuner detected. Nih penampakannya:
Penampakan uang sebelum dinyatakan hilang
DITA: Kayaknya cuma Dita yang otaknya masih fresh. HOREE Pikuner Undetected

Wednesday, 15 November 2017

SAD-FATE FACTS OF GRAND DUCHESS OLGA NIKOLAEVNA OF RUSSIA

November 15, 2017 by Tia Esha Nombiga
Grand Duchess Olga Nikolaevna of Russia through the years (1895 - 1916)
Today in 122 years ago, Grand Duchess Olga Nikolaevna of Russia was born in Alexander Palace, Tsarskoe Selo, St. Petersburg, Russian Empire (now is Russian Federation Republic). She was born as Romanov clan. I will write short sad-fate facts of her.

1. She was the eldest daughter of the last Tsar of All Russias, Tsar Nicholas II and his wife, Empress Alexandra Feodorovna (née Princess Alix of Hesse & by Rhine). She was also great-granddaughter of Queen Victoria of the United Kingdom through female line.

Olga and her parents
2. Her childhood surrounded by happiness. She had lovely parents, three gorgeous younger sisters, a beautiful little brother, religious family, and luxury nobility lifestyle.

Olga and her family
3. Olga was considered to be the most intelligent out of 5-her siblings. She had passion about schoolwork the most. In my opinion, she might be a great ruler if Tsar Paul I didn't forbid woman to be heir to Russian throne.

Olga and her siblings (Olga was the tallest)
4. If she succeeded his father, I am sure she would be Olga the Great. She grew up from little girl to be critical woman. She knew about financial and political circumstances of her country during World War I.

Olga wrote a Letter
5. She was matched with other European royal prince to be possible future husband but she decided to marry a Russian and live rest of her life in own country. Her parents also didn't force her to choose a man she would marry.

Olga and her British Relatives
6. The suitors were Prince David of Wales (future King Edward VIII of the United Kingdom), Prince Alexander of Serbia (future King Alexander I of Yugoslavia), Grand Duke Dimitri Pavlovich of Russia (his father's first cousin), & Prince Carol of Romania (future King Carol II of Romania). But Olga rejected all the suitors, as I said, she didn't want to leave her country, Russia and change her nationality.

Olga and her possible future husband (Edited by @lovelyotma)
7. In late 1913, she fell in love with 27-year-old Pavel Voronov, a junior officer in Imperial Yacht Shtandart. But she must to accept that Pavel became engaged to another Olga, a lady in waiting.

Olga and Pavel Voronov
8. In 1915, when she was serving as a nurse during World War I in Catherine Palace, Tsarskoe Selo (Catherine Palace was set up for hospital), she met Dimitri "Mitya" Shakh-Bagov, a wounded soldier she fell in love with.

Olga was surrounded by officer and wounded soldier (Mitya was on the bed)
9. Her life changed after his father abdication following Russia Revolution in February, 1917. Then, she imprisoned in 3 different places only a year together with her family.

Olga, her family, and 4 loyal servants in Murder Scene
10. She and family were under house arrest in Alexander Palace after February Revolution. Then, the family was moved miles away to Tobolsk in Siberia after Bolsheviks Revolution in October, 1917.

Olga and her sisters during house arrest in Alexander Palace, 1917
11. She lost her weight during captivity due to depression. In April 1918, the family was moved again to Yekaterinburg by Soviet Government. But her younger brother, the Tsarevitch (read: Aleksey Nikolaevich) wasn't able to travel to Yekaterinburg because he was suffering hemophillia attack.
Olga was chopping a wood during captivity in Tobolsk
12. Her parents were very anxious about her state of mental health. Her spirit was too low. That's why her parents chose Maria (her younger sister) to accompany them to Yekaterinburg because they believed she could give them power.

Her father and second younger sister, Maria Nikolaevna
13. She and two younger sisters, Tatiana and Anastasia take care of Aleksey in Tobolsk until he was strong enough to travel to Yekaterinburg. Her parents didn't take Anastasia to accompany them to Yekaterinburg because she was too young and they trusted Tatiana to take care of her siblings because she was level-headed.

Olga, Tatiana, and Anastasia was taking care of their
younger brother, Aleksey in Tobolsk. This was known to

be last photograph of the siblings together
14. Unfortunately, her life wasn't long. In last exile, she was planned in order to assassinated along with other 53 Romanovs by Bolsheviks in 1918. But 35 Romanovs could escape from assassination, excluding her and immediate family. She was only 22 years old at the day she died.

Romanovs who were assassinated by Bolsheviks (Edited by @lovelyotma)
15. (This part may be disturbing for some people)
In early morning of July 17, 1918, she and her family were ordered to walk down to basement in Ipative House, Yekaterinburg. In that place, she witnessed her parents were murdered brutally before her eyes.

Illustration of Nicholas and his family murder in Basement Ipatiev House

16. In her turn, she was stabbed multiple times on chest and shot on jaws in front of her siblings. One of Killer recalled, before she died, she made sign of cross with her mother. Her corpse thrown to abandoned pit mine in Ural.

Illustration of the death bodies of Nicholas and his family in pit mine

17. Her body remains just discovered in 1978, exhumed in 1991 to further identified, and buried properly alongside her family in 1998 in St. Peter & Paul Church, St. Petersburg, Russian Federation Republic.


Skull of Nicholas, Alexandra, Olga, Tatiana, and Anastasia
18. The family was identified by DNA sample of Grand Duke George Alexandrovich who died suddenly on road caused by tuberculosis in 1899. His blood remains on his clothes which was displayed in museum was used to identify skeletal belong to his older brother, Tsar Nicholas II.
Grand Duke George Alexandrovich, first younger brother of Tsar Nicholas II

Tuesday, 24 October 2017

CERBUNG: TAK TERDUGA (PART 1)

October 24, 2017 by Tia Esha Nombiga

Hari itu jarum jam terasa berdetak lebih lambat dari biasanya, padahal secara logika, jumlah detik dalam setiap menit akan tetap konstan seiring dengan pergerakan bumi terhadap matahari. Ternyata salah, aku baru mengerti ini yang disebut dengan teori relativitas yang terkenal dari Albert Einstein, dimana waktu akan terasa sangat lama ketika duduk di atas tungku yang panas daripada duduk bersebelahan dengan wanita cantik. Saat itu aku sedang berhadapan dengan berjuta pertanyaan yang dilontarkan dari dua dosen penguji dan dua dosen pembimbing untuk memenuhi persyaratan kelulusan studi masterku di salah satu universitas negeri terkemuka di Bandung. Sebenarnya tidak sulit bagiku menjawab semua pertanyaan tersebut karena sedari awal aku memilih prodi yang menjadi keahlianku “Teknik Informatika”. Aku memang bercita-cita ingin menjadi seorang programmer yang handal. Bukan jumawa melainkan optimis bahwa aku dipastikan lulus dengan gelar Magister Ilmu Komputer (M.Kom). Benar saja, aku lulus dengan predikat sangat memuaskan. 


***

Seorang pria muda berkulit kuning langsat khas Jawa yang belum genap berumur 24 tahun dengan tinggi 175 cm dan brewok tipis yang menghiasi wajahnya serta hidung sedikit mancung dan tatapan mata yang tegas merasa yakin bahwa dia diterima bekerja kelak bukan karena penampilannya melainkan karena kecakapannya dalam bekerja. Tidak butuh waktu lama untuk mencari dan menemukan pekerjaan yang cocok. Aku diterima sebagai Manager IT di perusahaan multinasional asing asal Amerika Serikat yang bergerak di bidang otomotif. Bekerja di perusahaan asing yang berlokasi di Jakarta membuat aku memiliki banyak kolega asing. Seringkali kami melakukan pertemuan di luar jam kerja membahas kepribadian masing-masing. Salah satu kolega asingku ternyata tertarik dengan kepribadianku yang bahkan aku tidak mampu mendeskripsikan seperti apa pribadiku ini. Dia adalah Mr. John Cornwell yang memiliki posisi cukup penting di perusahaan tempat aku bekerja. Suatu ketika Mr. Cornwell mengajakku bertemu untuk membicarakan mengenai kesediaanku untuk mengisi kekosongan Divisi IT di kantor cabang yang bermarkas di Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Pertemuan tersebut membawa berkah sekaligus dilema tersendiri bagiku. Berkah karena aku memiliki kesempatan untuk mengembangkan karirku namun dilema karena harus meninggalkan orang tuaku untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Walau pada akhirnya orang tuaku sangat mendukung keputusanku untuk menetap di negara berjuluk Paman Sam tersebut.

***

Tak terasa sudah hampir satu tahun aku menetap di Chicago. Karirku terus melonjak sejak kesigapanku dalam mengantisipasi adanya penambahan detik kabisat pada tanggal 30 Juni 2012 lalu yang “hampir” menghancurkan sistem komputerisasi finansial yang membuat para petinggi perusahaan ketar-ketir. Aku didapuk sebagai penyelamat perusahaan sehingga dipromosikan untuk naik jabatan padahal saat itu umurku masih terbilang muda, yaitu 26 tahun. Aku dipercaya mengendalikan seluruh sistem IT kantor yang bercabang di Chicago tersebut. Posisiku yang cukup mentereng lantas tak membuat aku tinggi hati. Aku tetap seperti aku yang dulu saat masih bermukim di Bandung. Aku lebih nyaman makan atau sekedar nyeruput kopi di tempat biasa daripada mewah. Saat itu aku sedang cuti bekerja dan berniat menyicipi kuliner kafe pinggir jalan. Pengunjung yang cukup membludak membuat aku mengurungkan niat untuk makan di tempat. Namun tiba-tiba ada seorang wanita bule bertubuh tinggi sedikit berisi dengan rambut blonde sebahu yang melambaikan tangannya kepadaku di ujung sana. Aku menghampirinya untuk memastikan dia benar-benar memanggilku. Ternyata dia menawariku kursi kosong yang cukup luas di sebelahnya. Dia ditemani seorang teman wanitanya yang bertubuh mungil, berpipi merah merona, berbibir tipis dan berambut brunette. Cukup terkejut karena masih ada orang bule yang ramah terhadap orang asing non pribumi namun aku beranggapan bahwa mereka ingin menolongku karena melihat gelagatku seperti orang yang bingung mencari dimana meja yang kosong. Jadilah kami duduk bertiga seperti orang yang sudah lama kenal. Mereka bernama Emma (red: yang melambaikan tangan) dan Stefanie yang berprofesi sebagai editor dan model majalah inspirasi anak muda yang merantau ke Chicago untuk mencari peruntungan. Mereka berdua adalah Warga Negara Asli Amerika. Kami saling berkenalan dan bertukar kontak. Aku cukup tertarik dengan Emma dan terlebih Stefanie yang sangat cerdas akan pemikirannya yang brilian. Walaupun mereka terpaut lima tahun lebih muda dari umurku, namun pemikirannya melebihi orang dewasa muda pada umumnya. Mereka mampu melihat situasi yang terjadi di dunia saat ini dan memberikan komentar serta solusi yang menurutku cukup berguna jika disampaikan di sebuah pertemuan delegasi dunia. Semua pemikiran mereka dicurahkan di dalam majalah yang mereka garap. Kami bertiga cukup sering bertemu dan membahas segala hal sampai pada titik dimana kami membahas tentang kisah percintaan. Aku merasa Emma mendekatiku bukan sebagai seorang yang ingin bertukar pikiran melainkan bertukar hati. Aku berharap Stefanie yang melakukan namun sepertinya itu hanya anganku saja. Sikap Stefanie kepadaku seperti halnya teman kepada teman pada umumnya, padahal aku berharap lebih. Berbeda dengan Emma yang sering memperhatikan dan mengajakku untuk menikmati kopi berdua. Sangat kentara sekali jika Emma menyukaiku sampai suatu ketika Emma menyatakan cintanya kepadaku namun aku menolaknya dengan alasan yang tidak menyakiti hatinya. Aku beralasan bahwa aku sudah memiliki kekasih di Indonesia sana. Emma memakluminya namun sejak saat itu sikap Emma kepadaku berubah 180 derajat, padahal aku berharap tetap berkawan baik. Stefanie sangat marah sekali kepadaku karena mengira aku mempermainkan perasaan sahabatnya. Aku menjelaskan kepada Stefanie bahwa aku melakukan ini karena aku menyukainya, bahkan mencintainya. Stefanie tidak mampu berkata apa-apa karena diam-diam dia juga merasakaan perasaan yang sama namun menutupinya untuk menghargai perasaan sahabatnya. Sejak saat itulah aku kehilangan kontak komunikasi dengan mereka berdua selama hampir setengah tahun.

***

Menjamu teman atau orang terdekat seperti sudah menjadi tradisi dalam keluarga jika sedang berulang tahun. Aku menjamu teman-teman kantor terdekatku secara non formal di kafe tempat aku, Stefanie, dan Emma sering menghabiskan waktu bersama. Ketika tagihan makan sudah aku lunasi, aku meminta ijin kepada teman-temanku untuk tetap tinggal seorang diri dengan alasan ingin bertemu dengan teman. Aku ingin mengingat kembali kebersamaanku dengan Stefanie dan Emma karena rindu yang tidak dapat dibendung. Aku berharap dapat bertemu mereka secara tidak sengaja saat ini juga. Saat terbuai dalam lamunan singkatku, tak terduga, harapanku menjadi nyata ketika aku melihat Stefanie dari kejauhan yang juga sedang menikmati makanan seorang diri. Aku mendekati dan mengajaknya berbicara. Stefanie mengaku jika hubungan persahabatannya dengan Emma kandas karena tidak sengaja menemukan diari miliknya yang berisikan curahan hati kepada satu pria yang mereka berdua sama-sama sukai. Stefanie tidak menyebutkan secara gamblang siapa pria itu namun batinku berbicara bahwa pria itu adalah aku. Lantas tanpa pikir panjang, aku melamar Stefanie untuk menjadi isteriku namun ditolak karena menurutnya kehidupan setelah pernikahan hanyalah omong kosong. Aku mengerti bahwa orang bule tidak terlalu menghiraukan tentang status pernikahan yang sah. Bagi mereka, memiliki sebuah keluarga kecil tidak perlu dilalui dengan janji pernikahan yang sakral. Aku menjelaskan dari sisi agama dan hukum, bahwa agamaku mengatur pernikahan agar status orang tua dan penumpu hidup untuk anak kelak jelas dan terjamin. Namun penjelasanku itu tidak mampu meluluhkan hati Stefanie. Dia tetap menolak lamaran dengan alasan perbedaan keyakinan dan masih mampu menanggung biaya anaknya sendiri kelak. Tak putus asa, aku meyakinkan Stefanie atas dasar cinta karena aku yakin kami saling mencintai. Stefanie terdiam dan tertunduk seakan tidak ingin menerima namun tidak ingin menolak juga. Aku memberi Stefanie waktu untuk menjawab lamaranku ini. Aku berjanji tidak akan mengganggunya lagi jika dia menolak lamaranku.

*BERSAMBUNG*
Ilustrasi Pemain
(Dari kiri atas searah jarum jam: Aku, Stefanie, Cameron, dan Emma)

Monday, 23 October 2017

KITA "KISAH NYATA": PEMBANTAIAN KELUARGA KEKAISARAN RUSIA YANG MELEGENDA

October 23, 2017 by Tia Esha Nombiga

Potret Resmi Tsar Nicholas II dan Keluarga (Livadia Palace, Kekaisaran Rusia 1913-sekarang Ukraina)
Saya menulis blog ini karena sangat terinspirasi dengan kehidupan pasangan kaisar terakhir Rusia yang mengajarkan anak-anaknya, Putri OTMA (sebutan untuk Olga, Tatiana, Maria, dan Anastasia) dan Putra Mahkota Aleksey untuk selalu berbuat baik kepada orang lain. Dahulu kehidupan pasangan tersebut sangat bahagia karena memiliki harta yang berlimpah dan anak-anak yang cerdas, berkepribadian ramah, dan mudah bergaul dengan siapapun walaupun dengan orang yang memiliki kasta di bawah mereka. Namun kebahagiaan mereka terenggut sejak para pencetus revolusi berpaham komunis menginginkan kelengseran kaisar dari kursi pemerintahan Rusia pada tahun 1917.  Kaisar terakhir Rusia beserta keluarga diasingkan dan ditahan dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Mereka harus menjalani kehidupan yang sengsara selama penahanan. Putri OTMA dan Putra Mahkota Aleksey harus bekerja bercocok tanam dan beternak selama penahanan. Seorang Putri yang bernama Olga kehilangan berat badan yang drastis dan Putra Mahkota Aleksey terkena serangan hemofilia yang hebat karena depresi akibat menjalani hidup yang tidak biasa mereka lakukan. Mereka dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya yang berjarak ribuan kilometer selama kurun waktu satu tahun hingga berlabuh di tempat terakhir mereka melihat dunia pada tanggal 17 Juli 1918 di sebuah rumah milik seorang pria bernama Ipatiev yang terletak di Yekaterinburg, Siberia. Kematian tragis keluarga kaisar terakhir Rusia yang tak terlepas dari hubungannya dengan para revolusioner berpaham komunis banyak diangkat dalam sebuah karya film dan cerita. Saya sendiri akan mengupas sedikit detil kekejaman komunis yang menimpa kaisar terakhir Rusia, Tsar Nicholas II, bersama dengan keluarganya yang dibunuh oleh pasukan komunis dari Partai Bolsheviks.

"Nicholas Alexandrovich Romanov, Pria Terkaya yang dibunuh oleh Rezim Komunis"

Dia bernama Nicholas Alexandrovich Romanov, merupakan putera tertua dari pasangan Tsar Alexander III dan Empress Maria Feodorovna. Dia menjadi penerus tahta Kekaisaran Rusia setelah kematian ayahnya pada tahun 1894 di usia 26 tahun, beberapa hari sebelum pernikahannya dengan Putri Alix dari Jerman ("Empress Alexandra Feodorovna of Russia by marriage" yang merupakan cucu Ratu Victoria dari Inggris). Dia diangkat menjadi Tsar pada upacara penobatan tahun 1896 dengan gelar Tsar Nicholas II. Nicky "sapaan akrab Nicholas" mungkin menjadi manusia terkaya di dunia apabila Ia tidak kehilangan keturunannya dengan kekayaan bersih Rp 4200 trilliun, sementara Bill Gates hanya Rp 1206 trilliun (anjir segini hanya "out of topic"). Dia terbiasa memanjakan anak-anaknya dengan kehidupan yang mewah, bahkan lebih mewah dari kehidupan modern saat ini padahal perekonomian Rusia sedang tidak stabil. Nicky dikenal sebagai pemimpin yang tidak cakap karena diyakini Ia belum siap menjadi seorang Tsar setelah kematian ayahnya. Banyak pihak yang tidak setuju dengan kebijakan yang dibuat olehnya (sebelum tahun 1906, bentuk pemerintahan Rusia merupakan Monarki Mutlak). Akibat ketidakcakapan tersebut, terjadi revolusi berdarah pertama pada tahun 1905 yang menginginkan dibentuknya Duma (Badan Legislatif Rusia) yang dijuluki Bloody Sunday karena banyak korban yang tumpah dari kalangan sipil. Lalu revolusi tak terbendung kedua yang terjadi pada tahun 1917 yang dimotori oleh Bolsheviks dan Menshviks (btw walaupun sama-sama menginginkan adanya revolusi namun keduanya memiliki perbedaan pendapat) dan disebut sebagai peristiwa penyebab kejatuhan Kekaisaran Rusia. Nicky sempat meminta suaka kepada sepupunya, Raja George V dari Inggris namun ditolak karena khawatir akan mengganggu stabilitas negaranya. Dia dipaksa untuk turun tahta, diasingkan, ditahan, lalu dieksekusi mati bersama isteri, 5 anak, dan 4 pembantu setianya di ruang bawah tanah Ipatiev House di daerah Yekaterinburg, Siberia berjarak ribuan kilometer dari rumahnya di St. Petersburg oleh komunis Bolsheviks pada tanggal 17 Juli 1918.
Tsar Nicholas II dan Anaknya selama Perang Dunia I (Mogilev, Kekaisaran Rusia 1916-sekarang Belarus)
Dari kiri ke kanan: Olga, Aleksey, Anastasia, dan Tatiana selama
menjalani penahanan rumah (Alexander Palace, St. Petersburg Rusia 1917)
Kronologi pembunuhan Nicky dan keluarga:
Pada pengasingan terakhir di Ipatiev House, mereka dibangunkan secara tiba-tiba dari tidurnya pada dini hari pukul 02.00 tanggal 17 Juli 1918, dan diperintahkan untuk turun ke ruang bawah tanah untuk keselamatan Nicky dan keluarga karena terjadi bentrokan antara White Army (pendukung pemerintah saat itu "Aleksandr Kerensky") dan Red Army (penentang pemerintah "Bolsheviks") di luar. Mereka adalah Tsar Nicholas II (50 tahun), Empress Alexandra Feodorovna (46 tahun), Grand Duchesses Olga (22 tahun), Tatiana (21 tahun), Maria (19 tahun), Anastasia Nikolaevna (17 tahun), Tsarevich Aleksey Nikolaevich (13 tahun), dan 4 pembantu setianya (Dr. Eugene Botkin, Anya Demidova, Aleksey Trupp, dan Ivan Kharitonov). Setelah sampai di ruang bawah tanah, Nicky meminta 2 kursi untuk putera bungsunya, Aleksey yang sedang menderita hemofilia dan isterinya yang memiliki riwayat kesehatan kurang baik. Setelah kurang lebih setengah jam mereka menunggu, Yakov Yurovsky (pimpinan eksekusi) dan kurang lebih 11 orang bersenjata turun lalu Yurovsky membacakan sebuah surat bertuliskan,

"Dikarenakan kerabatmu tetap melanjutkan penyerangan terhadap kami, Dewan Komite Ural memutuskan untuk mengeksekusi Anda."

Sontak Nicky berkata,"Apa? Apa?" lalu memandangi anak-anak dan isterinya, dimana puteri tertuanya, Olga dan isterinya membuat tanda salib dan ditembaklah Nicky dibagian kepala dan meninggal di tempat, begitu juga dengan isterinya. Olga dan Tatiana (dua puteri tertua) menjerit meratapi mayat ibunya dan saling berpelukan sedangkan Aleksey duduk mematung dengan wajah pucat berlumuran darah ayahnya. Karena asap tembakan memenuhi ruangan yang sempit, para eksekutor keluar dan kembali setelah asap mulai menghilang. Lalu dilanjutkan pembunuhan terhadap Aleksey dengan menembakkannya di bagian dada namun tidak mempan karena bajunya dihiasi oleh berlian, setelah itu ditusuk dengan bayonet dan tidak mempan juga. Karena mengetahui Aleksey masih bernafas, dua tembakan dihujamkan ke bagian belakang telinga menyebabkan Aleksey meninggal seketika. Eksekutor lainnya sibuk dengan Olga dan Tatiana yang berusaha melarikan diri. Mereka mencoba menusuk Grand Duchesses dengan bayonet berulang kali namun gagal karena berlian yang disematkan pada bajunya. Tatiana mencoba bangkit namun ditembak di bagian belakang kepala sedangkan Olga ditembak di bagian rahang oleh Yurovsky. Keduanya meninggal di tempat. Eksekutor yang sedang mabuk bernama Peter Ermakov bertugas membunuh Maria yang terluka saat tembakan pertama dan Anastasia (dua puteri termuda), dengan menusuknya di bagian perut namun tidak mempan karena baju yang berhias berlian, lalu menembaknya. Karena mabuk, dia mengatakan telah membunuh keduanya dengan tembakan. Kemudian mayat-mayat tersebut dibawa dengan truk menuju pertambangan di kaki Pegunungan Ural. Di tengah perjalanan, Maria berteriak meminta pertolongan dengan suara lirih menahan sakit dan dipukulah wajahnya hingga Ia terdiam. Mayat-mayat tersebut disiram dengan asam sulfat pekat untuk menghilangkan identitas dan dua anak Nicky lainnya yaitu Aleksey dan Maria/Anastasia dibuang sejauh 2 KM dari keluarganya. Diyakini bahwa anak-anak Nicky meninggal dengan sangat pelan dan sakit (hanya Nicky, isteri dan 2 pembantu prianya yang meninggal seketika pada tembakan pertama). Banyak rumor yang menyebutkan bahwa puteri termudanya, Anastasia berhasil lolos dari pembunuhan dan banyak orang mengaku sebagai Anastasia untuk mengklaim kekayaan keluarga Romanov. Rumor tersebut terus bergulir sampai akhirnya terpatahkan saat ditemukan sisa tulang belulang mereka pada tahun 1978 dan 2 anak Nicky lainnya yaitu Aleksey dan Maria/Anastasia pada tahun 2007 menggunakan sampel DNA Pangeran Philip, suami Ratu Elizabeth II dari Inggris yang masih memiliki hubungan darah dengan isteri Nicky, Alix atau Alexandra (kakaknya yaitu Princess Victoria of Hesse and by Rhine merupakan nenek Pangeran Philip). Sisa tulang belulang keluarga kaisar terakhir Rusia dimakamkan di Gereja Orthodox St. Peter dan Paul di St. Petersburg pada tahun 1998 setelah dilakukan identifikasi lebih lanjut pada tahun 1991 sementara Aleksey dan Maria/Anastasia baru dimakamkan bersama dengan keluarganya pada tahun 2007. Tidak ada akhir cerita bahagia dari keluarga terakhir Romanov setelah ditemukannya seluruh sisa tubuhnya. Setelah runtuhnya dinasti Romanov yang berkuasa selama 304 tahun, terbentuklah negara Republik Sosialis Federasi Soviet tahun 1918, lalu Uni Soviet pada tahun 1922 - 1991 hingga pecah kembali menjadi negara Republik Federasi Rusia sampai saat ini yg dipimpin oleh seorang presiden. Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa komunis bukan hanya musuh agama Islam melainkan juga musuh agama lain yang tidak ingin mencampur urusan agama dengan politik karena dianggap dapat menghambat. Keluarga kaisar Rusia dikenal sebagai keluarga Kristen Orthodox yang sangat taat. Oleh karena itu pasukan Bolsheviks ingin membersihkan garis keturunan Romanov. Dari 53 Romanov yang menjadi target pembunuhan, ada 35 Romanov yang berhasil lolos, beberapa termasuk keluarga terdekat Nicky seperti Dowager Empress Maria Feodorovna (ibu Nicky), Grand Duchesses Olga dan Xenia Alexandrovna (saudara perempuan Nicky), Grand Duke Dmitri Pavlovich, Grand Duchess Maria Pavlovna (sepupu Nicky), Princess Irina Alexandrovna (keponakan Nicky), dan Prince Felix Yusupov (suami Princess Irina Alexandrovna). Sebagian keluarga yang selamat diasingkan di Livadia Palace, lalu diselamatkan oleh kapal kiriman Ratu Alexandra dari Inggris (Isteri Raja Edward VII dari Inggris yang merupakan tante Tsar Nicholas II) dan tinggal hingga akhir hayatnya di luar Rusia.
Ilustrasi Tsar Nicholas II, isteri, anak, dan 4 pembantu setianya saat
berada di dalam Basement Ipatiev House sesaat sebelum dibunuh
Kondisi Basement Ipatiev House setelah pembunuhan (Ekaterinburg, Siberia 1918)

Pada tahun 1970-an, Ipatiev House yang juga disebut House of Special Purpose dirobohkan dan dibangun gereja sekaligus museum yang diberi nama Church on the Blood yang juga berisi banyak patung Tsar Nicholas II dan keluarga untuk mengenangnya. Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, perhiasan, tiara, mahkota penuh mutiara dan berlian serta baju kekaisaran dipajang di suatu tempat di Belanda dan Amerika sedangkan beberapa istana tempat tinggal keluarga kaisar seperti Winter Palace (sekarang The State Hermitage), Chaterine Palace, Livadia Palace dan Alexander Palace dijadikan museum.

Baca juga kisah hidup Grand Duchess Olga Nikolaevna of Russia

Sumber: Sebagian diambil dari buku karangan Helen Rappaport yang berjudul Romanov Sisters: The Lost Lives of the Daughters of Nicholas and Alexandra.


Dari kiri atas searah jarum jam: Tsar Nicholas II, Tsarina Alexandra Feodorovna, Grand Duchesses Olga,
Tatiana, Maria, dan Anastasia Nikolaevna dan Tsesarevich Alexei Nikolaevich, 1913